Peserta Piala Soeratin Diusulkan dari Sekolah Sepak Bola

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan belum lama ini mengusulkan pendiri PSSI Ir. Soeratin Sosorosoegondo menjadi pahlawan nasional. Semangat tersebut membuat penggiat sepak bola Jakarta, Arki Gusmark memberikan usulannya terkait kompetisi usia muda.

Piala Soeratin merupakan salah satu tonggak kompetisi usia muda. Turnamen yang dikhususkan untuk tim usia muda sudah digelar sejak tahun 1965 dengan Persema Malang sebagai juara. Sudah terbukti pula beberapa pemain nasional lahir dari Piala Soeratin.

Menyikapi perkembangan sepak bola yang sudah modern, peran Sekolah Sepak Bola (SSB) kini mulai terkikis. SSB di masa sekarang menjadi tanggung jawab Asosiasi Kota (Askot) PSSI dan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI. Namun, minimnya turnamen resmi membuat gairah SSB surut.

“Saya yakin pada saat beliau (Soeratin) mendirikan PSSI tahun 1930, cita-citanya membangun sepak bola Indonesia dimulai dari level bawah, seperti grass root. Oleh karena itu saya mengusulkan kepada PSSI Pusat, untuk mengimplementasikan cita-cita tersebut dengan menggelar Piala Soeratin yang pesertanya dari SSB bukan dari Klub” ujar Arki kepada Bolalob, Selasa (5/5/2020).

Arki sebagai penggiat sepak bola Jakarta memiliki pendapat dengan usulannya itu. Menurutnya, SBB bisa berperan dalam sepak bola modern sebagai ‘gudang’nya pemain klub-klub Liga 1, Liga 2 dan Liga 3, khususnya yang memiliki tim Elite Pro Academy.

Seperti diketahui pula, klub-klub Liga 1 kini memiliki kompetisi usia muda yang terpisah dari kompetisi yang digelar Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, yakni Elite Pro Academy (EPA) Liga 1.

Pria yang juga mantan Sekretaris Umum PSJS Jakarta Selatan itu melihat SSB butuh turnamen tingkat nasional yang berjenjang. Selama ini Piala Soeratin diikuti oleh klub dan regulasi ini diusulkan untuk dirubah menjadi SSB sebagai pesertanya.

“SSB bisa menjadi cikal bakal kumpulan pemain yang melanjutkan jenjang sepak bolanya ke akademi-akademi. Jadi klub-klub Liga 1, Liga 2, dan bahkan Liga 3, tidak kekurangan pemain. Masing-masing akademi membutuhkan pemain, dan dari mana pemain itu didapat? pemain di dapat dari Piala Soeratin yang pesertanya SSB,” tutur Arki menambahkan.

“Usulan saya, Piala Soeratin jenjangnya adalah U-15, U-17, dan U-19. Tim U-15 nantinya bisa menyokong tim EPA U-16, lalu Tim U-17 untuk menyokong EPA U-18, dan terakhir tim U-19 tentu bisa berjenjang ke EPA U-20,”

“Sehingga klub tidak kesulitan mendapatkan pemain. Ini ide saya, karena klub pasti lebih baik fokus mengembangkan akademinya dan pemain bisa didapat dari SSB melalui Piala Soeratin,” jelas pria lulusan STP Trisakti, Jakarta itu.

“Cara ini juga saya lihat bisa memancing gairah SSB dalam melahirkan pemain. Saat ini SSB seakan hanya jadi tanggung jawab Askot dan Askab saja. Dengan adanya SSB di Piala Soeratin, membuat mereka seperti diakui dalam struktural sepak bola nasional,” imbuhnya.

Dengan regulasi turnamen yang diusulkan, Arki merasa optimistis sepak bola usia muda kembali bergeliat. Pasalnya, Piala Soeratin dengan peserta SSB, dianggap sebagai salah satu jenjang pemain dari level amatir ke profesional.

“Saya rasa jika SSB pesertanya, saya percaya bisa jalan karena memang struktur ini tidak terpengaruh dengan kompetisi Liga 1, Liga 2, Liga 3, Sturktur ini terpisah. Tapi ini justru berkesinambungan karena jadwal digelar sebelum EPA dimulai. Jadi lebih dahulu Piala Soeratin digelar, agar pemandu bakat dan direktur teknik klub akademi bisa memantau pemain dari SSB,” tutup Arki