Mengirim Pemain Muda ke Luar Negeri Bukan Jaminan Kesuksesan Timnas Indonesia

Masih ingat program Sociedad AnĂ³nima Deportiva (SAD) Indonesia yang digarap PSSI dan Federasi Sepakbola Uruguay pada tahun 2008 lalu? Ya kala itu para pemain muda berbakat U-16 kita menjalani pendidikan pelatihan sepakbola selama sepanjang tahun dan berjalan hampir empat musim.

Para pemain itu berlatih di bawah bimbingan pelatih asal Uruguay Cesar Payovich dan asistennya Jorge Anon. Mereka pun sempat tampil di kompetisi Liga Uruguay U-17 (Quinta Division) 2008.

Total biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 12.5 miliar untuk satu tahun program itu. Namun ada berapa banyak pemain lulusan SAD Indonesia yang masih eksis di liga kasta tertinggi saat ini? Ada memang tapi tak banyak.

Pelatih asal Brasil, Jaino Matos yang saat ini menjadi General Manager Project Oceano Football Center, memiliki pandangan tersendiri tentang tujuan yang dicapai para pemain muda jika berlatih atau bermain di luar negeri.

Kegiatan Duo Garuda Select Jalani 17 Jam Puasa di Inggris
Inspiratif, Yanto Basna Ingin Luncurkan Buku dan Bangun Sepak Bola di Papua

Oceano Football Center sendiri merupakan tempat dimana para profesional dilatih untuk meningkatkan segala aspek yang mereke miliki mapun tidak.

“Ketika kita berbicara tentang pemain Indonesia pergi ke luar negeri, tentu pertanyaan pertama yang muncul, tujuannya apa? Apakah hanya untuk pengalaman? untuk seleksi? Atau meningkatkan nilai dengan kesempatan bermain di luar? itu rumit, namun sebagian besar ingin bermain di luar negeri,” ujar Jaino Matos.

Saat ini PSSI memiliki program Garuda Select yang didukung penuh oleh perusahaan swasta, Super Soccer TV. Skuat yang dihuni 24 pemain pilihan di bawah usia 17 tahunini bakal mendapat pelatihan dengan standar Eropa, baik di dalam dan di luar lapangan, di Inggris, selama enam bulan.

Program Garuda Select sudah berjalan dua edisi dalam dua tahun terakhir. Tak hanya Inggris, mereka juga ditempa di Italia. Pada program ini, Dennise Wise ditunjuk sebagai direktur program, dan Des Walker menjadi pelatih dari tim Garuda Select ini. Pencarian pemain dilakukan dua sosok tersebut lewat program Super Soccer TV Elite Pro Academy U-16 tahun lalu, yang diikuti 18 klub Liga 1.

“Contoh Garuda Select yang berada di Inggris, saya pikir itu sangat positif, karena di Inggris sepakbola mereka memiliki jiwa tempur, keseriusan, kesungguhan yang sangat tinggi dan kuat. Ketika pemain muda Indonesia disana, mau tidak mau mereka belajar tanggung jawab di lapangan, dan menjadi lebih baik di luar lapangan. Walau mereka tak lolos seleksi atau tidak mendapat klub, mereka beruntung karena akan membawa pulang mental yang lebih kuat,” ujar Jaino kepada Bolalob.

Pelatih asal Brasil ini memiliki contoh ketika negara-negara maju Asia sudah sejak lama melakukan pengiriman pemain muda ke luar negeri.

“Sejak tahun 1970an Federasi Sepakbola Jepang sudah mengirim pemain muda untuk belajar terutama di Brasil. Begitu juga dengan Arab Saudi, Qatar dan Korea Selatan. Dengan program yang rapih dan sistematis, bukan hanya pemain tapi pelatih bisa saling tukar ilmu, mendapat metode latihan terbaru.”

“Jadi intinya pembinaan untuk di anggap sukses, bukan cuma sekedar mengorbitkan pemain menjadi profesional, tapi jadi pemain yang signifikan,” ujarnya.

“Yang terkini dalam ilmu sepakbola dan analisis adalah menggunakan data GPS. Dimana alat itu bisa menjadi menu latihan harian, tim medis juga perlu dan juga fisiologis. Di Sepakbola modern semua area membutuhkan keahlian untuk meningkatan permainan itu.”

“Penting untuk terus ada di pikiran kita, yakni sampai usia 12 tahun teknik individu adalah faktor utama. Lalu diatas itu mulai ada faktor mental ,fisik, pengambilan keputusan di lapangan. Bagaimana cara melatih itu? Itulah mengapa metode kualitas latihan sangat penting untuk pengembangan pemain.”

“Untuk itu pengalaman bermain di luar negeri sangat penting dalam berbagai jalan tapi bukan segalanya. Dimana sepak bola benar-benar membuat perbedaan yakni ada di sini, di rumah kita sendiri.”