Kisah Suporter PSM: Berjumlah Puluhan Kelompok, Satu Tujuan di Stadion

Dukungan dan militansi suporter PSM Makassar saat mendukung tim kebangaannya jadi bagian penting kiprah Juku Eja di pentas sepak bola Indonesia.

Berbeda dengan klub lain, PSM memiliki kelompok suporter yang jumlahnya mencapai puluhan. Fenomena ini sudah terjadi sejak era Perserikatan sampai Liga 1 saat ini.

Di era Perserikatan, pembentukan kelompok suporter berdasarkan kawasan atau nama jalan dimana mereka bermukim. Di antaranya, Suporter Mappanyuki Ikatan Suporter Makasar (ISM), Suporter Hasanuddin, Suporter Dealos, Suporter Reformasi, Komando.

Kemudian ada Suporter Bias, Suporter Kubis, Karebosi, Gunung Lokong, Suporter PKC dan lain-lain. Karena jumlah kelompok suporter banyak maka anggota masing-masing kelompok terbilang sedikit, hanya ratusan orang.

“Baju atau kaus yang dikenakan pun kerap tak seragam. Yang penting warnanya merah,”ungkap Karaeng Iskandar, pentolan suporter era Perserikatan kepada Bola.com. Rabu (22/4/2020).

Karaeng menambahkan, cara kelompok suporter era Perserikatan dalam mendukung PSM jauh berbeda dengan sekarang. Saat itu belum ada yel-yel atau koreo. Semuanya serba spontan dan meneror tim lawan.

“Tapi, justru lebih efektif untuk menjatuhkan mental pemain lawan karena dilakukan secara serentak. Kalau sekarang kan berbeda. Yel-yel dan koreo suporter sekarang memang lebih kreatif. Tapi kesannya tak teratur,” terang Karaeng yang menyaksikan langsung sukses PSM meraih trofi juara Perserikatan 1992 dan Liga Indonesia 1999-2000.

Menurut Karaeng, meski berbeda dalam bentuk dukungan, pada hakekatnya tujuan suporter tetap satu saat di stadion.

“Semua suporter tentu ingin PSM Makassar mengalahkan lawannya. Biasanya, kebersamaan kami justru lebih kental saat mendukung PSM di markas klub lawan,” tegas Karaeng.

Era Liga Indonesia

Pradigma suporter berubah total di era Liga Indonesia. Bentuk dukungan mereka lebih tertata dan aktraktif. Perubahan ini dimulai oleh The Maczman yang berdiri pada 1 Februari 2001. Menariknya, ide awal pembentukan The Maczman justru dari Hendro Kartiko, kiper utama PSM saat itu.

“Hendro ketika itu menyarankan saya membentuk kelompok suporter kreatif seperti Aremania atau Pasopati Solo,” ungkap Ocha Alim, satu di antara tiga pendiri The Maczman.

Dua sosok lainnya adalah Amirullah Pase (pengusaha) dan Iriantosyah Kasim (birokrat/mantan kapten PSM Makassar). Proses The Maczman menjadi suporter kreatif tak bisa dilepaskan dari peran Mayor Haristanto, dedengkot Pasopati yang sengaja didatangkan ke Makassar untuk membimbing para anggota kelompok ini.

“Setelah dinilai mulai mahir, kami pun mendeklarasikan diri sekaligus melakukan debut mendukung PSM di tribune terbuka sebelah timur Stadion Andi Mattalatta Mattoangin sampai saat ini,” papar Ocha.

Kreativitas The Maczman menginspirasi Red Gank yang berdiri tiga tahun kemudian. Tepatnya 8 Februari.

“Awalnya kami hanya sekumpulan pemuda sebuah perumahan di Makassar. Kami menonton aksi The Maczman dari VIP Utara setiap PSM menjamu lawan. Dari situ kami berinsiatif membentuk kelompok suporter sendiri,” ungkap Sadat Sukma, Sekjen Red Gank.

Kelompok Baru

Selain The Maczman dan Red Gank juga ada Laskar Ayam Jantan. Kelompok yang berdiri pada 7 Mei 2010 di kediaman Daeng Uki ini juga dikenal militan dalam mendukung PSM Makassar.

Ketiga kelompok suporter besar ini memiliki korwil atau sektor tak hanya di Sulawesi Selatan tapi juga di Kalimantan dan Jawa.

Setelah mereka, bermunculan kelompok suporter lain dengan gaya dan ekslusifitas dalam mendukung PSM, di antaranya Komunitas VIP Utara, Komunitas VIP Selatan (KVS), Komunitas Dottoro, Komunitas Suporter VIP Utama, PSM Fans 1915, dan Curva Sud Mattoanging.

Meski jumlah tak banyak, kehadiran mereka memberi warna tersendiri di Stadion AMM. Ketika Liga Indonesia berganti nama menjadi Liga 1, muncul satu kelompok suporter baru yakni Ramang Mania.

Kelompok yang memakai nama Andi Ramang, legenda sepak bola PSM dan Indonesia ini berdiri pada 4 April 2018. Meski terbilang baru, jumlah anggota mereka bertambah secara signifikan setiap musim.Menrut Ahmad Susanto, Ketua Ramang Mania, anggota kelompoknya sudah mencapai 2000 orang.

“Aggota kami mayoritas anak muda. Sampai saat ini, kami memiliki 14 Korwil dan 27 Sektor termasuk di luar Sulsel,” terang Ahmad Susanto.

Sebaik kelompok suporter baru, Ramang Mania intens menjalin komunikasi dengan pendukung PSM lainnya. “Intinya, kami ingin total memberi dukungan kepada PSM baik kandang mau pun kandang,” pungkas Ahmad Susanto.