Bonek, Sebuah Identitas Kultur Sepak Bola Surabaya

Bonek adalah sebutan pendukung setia Persebaya Surabaya. Mereka dikenal sebagai salah satu suporter militan yang menciptakan kultur tersendiri di Surabaya dan Jawa Timur.

Bonek sebetulnya adalah sebuah akronim dari bondo nekat atau jika dalam istilah Indonesia-nya menjadi modal nekat.

Istilah itu menjadi sebuah gambaran bagaimana pendukung militan ini totalitas dalam memberikan suport kepada tim kesayangan.

Namun, selama perjalanannya, kata Bonek perlahan mengalami pergeseran makna menjadi sebuah identitas suporter Persebaya Surabaya.

Bahkan, kini muncul istilah mbonek, sebutan untuk kegiatan untuk pergi memberikan dukungan langsung kepada Persebaya Surabaya saat bertanding.

Jika ditelisik, ada sekelumit cerita menarik pada awal mula penjulukan Bonek kepada pendukung Persebaya Surabaya.

Pendukung Persebaya Surabaya tidak langsung menamai diri mereka sebagai Bonek.

Bonek baru lahir pada medio musim 1987, sangat jauh dari eksisnya Persebaya Surabaya yang berdiri pada tahun 1927.

Banyak versi mengenai awal mula mana Bonek ini muncul. Namun, semua merujuk pada saat kompetisi Perserikatan musim 1987-88.

Saat itu, Persebaya berhasil lolos ke babak 12 besar untuk melawan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno Senayan.

Pada zaman itu, bukanlah hal yang biasa suporter tamu ikut mengawal perjuangan tim kebanggan saat berntanding di kandang lawan.

Namun, suporter Persebaya Surabaya yang terlanjur tenggelam dalam euforia dengan mantap mengawal perjuangan Bajul Ijo.

Bisa dibilang pendukung Persebaya adalah pelopor gerakan suporter mendukung di kandang lawan, atau yang kini biasa disebut away di kalangan suporter.

Namun, niat baik itu berujung chaos karena tingginya antusiasme pendukung Persebaya Surabaya membludak tidak terkendali.

Banyak dari mereka yang memberanikan diri berangkat ke Senayan secara mandiri tanpa koordinasi.

Alhasil, saat pertandingan, banyak pendukung Persebaya Surabaya yang berhamburan di pintu luar stadion karena tidak bertiket.

Belum lagi ketika selesai pertandingan, banyak pendukung Persebaya Surabaya terlantar di sudut-sudut ibu kota karena tidak memiliki perbekalan yang cukup.

Dari sanalah kemudian pendukung Persebaya Surabaya mendapatkan julukan Bonek alias Bondo Nekat.

Mereka dengan modal nyali dan keyakinan besar memberikan dukungan tim secara langsung tanpa terkekang oleh materi.

Sebuah militansi di luar logika yang tidak bisa ditangkap nalar masyarakat umum.

Konon, pertama kali istilah Bonek dicetuskan oleh Dahlah Iskan yang menjadi petinggi salah satu surat kabar terkemuka di Jawa Timur.

Dahlan Iskan saat itu geleng-geleng kepala melihat banyaknya pendukung Persebaya Surabaya di luar Senayan.

Lalu dia berceletuk dengan menyebut mereka Bonek atau orang yang Bondo Nekat.

Sumber literasi yang berbeda menyebut julukan Bonek pertama kali dicetuskan oleh Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Purnomo Kasidi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Persebaya Surabaya.

Kala itu, dia melihat banyak suporter berhamburan di halaman hotelnya menginap.

Lantas, Purnomo Kasidi memiliki reaksi yang sama seperti Dahlan Iskan dan menyebut mereka Bonek, dalam artian nekat datang tanpa bondo (modal) atau bondo pas-pasan sehingga harus tidur tanpa penginapan.

Bondo nekat sendiri sebetulnya berkonotasi negatif.

Namun, dengan kesadaran penuh, pendukung Persebaya Surabaya merangkul stigma negatif tersebut menjadi sebuah identitas suporter yang totalitas dalam memberikan dukungan.

Pendukung Bajul Ijo telah berhasil mengubah stigma negatif tersebut.

Bonek tidak lagi sebuah kata sifat akronim bondo nekat, namun sebuah identitas pendukung Persebaya yang memiliki dedikasi dan jiwa militan tanpa kompromi.