Petualangan Zulkifli Syukur: Matang di Luar Makassar, Motivator PSM di Pengujung Karier

Zulkifli Syukur merupakan satu di antara bek sayap terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Mengawali kariernya sebagai pemain PSM Makassar junior, ia justru matang ketika bermain di klub lain.

Penetrasi apik ke lini pertahanan lawan dan memanjakan striker dengan umpan silang terukur. Itulah ciri khas yang dimiliki Zulkifli Syukur, kelebihan yang membuatnya pernah menjadi bek sayap kanan terbaik dan bernilai mahal di pentas Liga Indonesia.

Seperti Hamka Hamzah, Zulkifli adalah putra asli Makassar yang justru bersinar bersama klub lain. Padahal, ia adalah produk pembinaan kompetisi lokal Makassar dan sempat memperkuat PSM Junior.

Klub pertama Zulkifli di level senior adalah Persim Maros, klub Divisi 1 (sekarang Liga 2). Ia bergabung pada klub yang bermarkas di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2005. Semusim kemudian, Zulkifli memulai petualangannya bermain di luar Sulsel dengan menerima tawaran PKT Bontang. Di klub Kalimantan Timur inilah peruntungannya di sepak bola mulai terlihat.

Ia lolos seleksi tim nasional U-23 yang berlatih di Belanda. Di Negeri Kincir Angin, Zulkifli dan kawan-kawan ditangani duet pelatih Foppe de Han dan Bambang Nurdiansyah. Tim ini dipersiapkan menghadapi Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Namun, timnas U-23 langsung tersingkir di fase grup setelah dibantai Irak 0-6, lalu kalah telak 1-4 dari Suriah dan bermain imbang 1-1 dengan Singapura.

Sepulang dari Qatar, Zulkifli berturut-turut berlabuh di Persmin Minahasa, Arema Indonesia, Persib Bandung, Mitra Kukar, Borneo FC dan terakhir kembali ke kampung halaman memperkuat PSM pada Liga 1 2017. Musim lalu, Zulkifli sempat dipinjamkan PSM ke Sriwijaya FC yang berkompetisi di Liga 2.

Pencapaian terbaik Zulikfli di level klub terjadi ketika membawa Arema Indonesia juara Liga Super Indonesia 2009-2010 dan runner-up pada musim berikutnya. Prestasi yang mengantarnya masuk skuat timnas senior menghadapi Piala AFF 2010. Di ajang tertinggi kawasan Asia Tenggara ini, timnas Indonesia bertengger di peringkat dua.

Kontroversial

Sebelum membawa Arema Indonesia juara Liga Indonesia 1999-2000, Zulkifli sejatinya nyaris berkostum PSM. Jelang awal musim, ia sudah melakukan negosiasi dengan manajemen PSM yang saat itu dikendalikan oleh Kadir Halid. Kesepakatan harga sebetulnya sudah tercapai, tapi Zulkifli menolak berlatih dengan alasan belum tanda tangan kontrak.

Suasana pun kian keruh setelah pelatih PSM saat itu. Apalagi Hanafing berkomentar di media lokal Makassar bahwa dirinya tak masalah kalau Zulkifli tak mau bergabung di PSM. Zulkifli pun memutuskan hengkang ke Arema Indonesia yang ditangani Robert Alberts.

Selain di PSM, Zulkifli juga membuat kontroversi bersama Sriwijaya FC jelang pengelaran Liga Super Indonesia 2015. Klub asal Palembang itu malah sudah memgumumkan namanya masuk dalam daftar rekrutan baru. Namun saat launching tim pada 22 Desember 2014, Zulkifli tidak hadir di Stadion Gelora Sriwijaya. Ia memilih bertahan di klub lamanya, Mitra Kukar.

Bersama Mitra Kukar, Zulkifli meraih trofi juara Piala Jenderal Sudirman, sebuah turnamen yang digelar untuk mengisi kekosongan karena Liga Super Indonesia 2015 terhenti menyusul sanksi FIFA ke PSSI.

Zulkifli akhirnya kembali ke Makassar setelah menerima tawaran manajemen PSM yang dikendalikan Munafri Arifuddin jelang Liga 1 2017. Ia pulang bersama Hamka yang juga rekan sepermainannya kalah remaja. Di PSM, Zulkifli lebih banyak berperan sebagai motivator tim karena terkendala cedera karena usianya sudah kepala tiga. Apalagi, PSM sudah mendapatkan pemain muda di posisinya yakni Asnawi Mangkualam.

Bersama PSM, Zulkifli menggenggam trofi juara Piala Indonesia 2018. Meski masih berstatus pemain PSM di Liga 1 2020, Zulkifli kian sulit mendapatkan menit bermain. Karena selain Asnawi, di posisi bek kanan ada Hasim Kipuw dan Wasyiat Hasbullah. Belakangan, Zulkifli membekali dirinya dengan mengikuti kursus lisensi B AFC belum lama ini.