Liga Indonesia Vakum, Wasit FIFA Jadi Teknisi Komputer demi Pemasukan

Kompetisi sepak bola Indonesia tengah vakum menyusul wabah virus Corona. PSSI menetapkan force majeure hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Kondisi itu berpengaruh besar dari sisi ekonomi para pelaku sepak bola. Terlebih, federasi menetapkan besaran gaji maksimal 25 persen kepada pemain hingga Juni mendatang.

Tak hanya pemain, kondisi lebih berat dialami para wasit. Terlebih, para pengadil lapangan penghasilannya hanya per pertandingan, tidak ada gaji bulanan.

Praktis, saat kompetisi berhenti, tidak ada sumber penghasilan lain. Kondisi itu dirasakan wasit berlisensi FIFA asal Kudus, Dwi Purba Adi Wicaksana.

“Pasti berpengaruh dengan pendapatan. Apalagi pemasukan utama saya memang dari wasit mas,” ungkap Dwi Purba saat berbincang dengan INDOSPORT, Minggu (05/04/20).

Wasit berusia 31 tahun itu mengaku harus membongkar tabungan untuk kebutuhan keluarga di Kota Kretek. Selain itu, dirinya juga membantu usaha sang kakak di bidang service serta penjualan komputer dan laptop.

“Kebetulan kakak punya usaha di Kudus, ya ikut bantu-bantu jualan dan servis seperti laptop. Ya, untuk menambah pemasukkan mas,” ujar dia.

“Kondisinya memang seperti ini dan aktivitas sepak bola juga berhenti. Mudah-mudahan semuanya cepat selesai dan kompetisi bisa kembali bergulir,” tambah Dwi Purba.