Ujian Ketahanan Shin Tae Yong Hadapi ‘Faktor X’ di Timnas

‘Faktor X’ atau non-teknis jadi tantangan paling besar bagi Shin Tae Yong menangani Timnas Indonesia.

Terlebih di tengah situasi sepak bola vakum sementara karena virus corona, membuat program yang sudah direncanakannya harus mengalami penyesuaian.

Program pemusatan latihan ikut terhenti, kompetisi pun vakum. Para pemain kini kembali ke rumah mereka masing-masing.

Pekerjaan Shin Tae Yong tentu semakin rumit. Semakin sulit baginya memastikan para pemain untuk menjaga kondisi fisik mereka.

Ditambah lagi, PSSI juga berencana memotong gaji pelatih yang kini sudah pulang kampung ke Korea Selatan. Ketahanan ‘stamina’ Shin Tae Yong kini pun semakin diuji menangani Timnas Indonesia.

Shin Tae Yong pernah mengeluhkan kondisi stamina para pemain Garuda usai evaluasi pelatnas tahap pertama Timnas Indonesia dan Timnas Indonesia U-19.

Sorotan utamanya adalah daya tahan para pemain di lapangan. Shin Tae Yong menyebut stamina para pemainnya jauh dari yang dia harapkan.

“Secara fisik sangat kurang. Setelah menit ke-20, para pemain terlihat kelelahan. Karena itu di Chiang Mai [Thailand] kami berkonsentrasi meningkatkan kemampuan fisik,” kata Shin Tae Yong waktu itu.

Mantan pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu menilai faktor stamina jeblok karena masalah asupan nutrisi para pemain. Dia menekankan pentingnya para pemain mengubah pola diet makanan demi memperbaiki stamina.

Faktor Non-Teknis PR Besar Shin Tae Yong di Timnas Indonesia
Shin Tae Yong menegaskan pentingnya pemain mengkonsumsi protein seperti daging, ikan, serta suplemen. Namun, tak lupa pula diimbangi dengan makan sayuran agar pencernaan jadi lebih cepat.

“Karena itu, ayo banyak-banyak makan salad,” pesan Shin Tae Yong untuk para pemain Timnas Indonesia.

Satu lagi yang paling dilarang adalah makan menu goreng-gorengan karena bisa menyebabkan stamina semakin anjlok.

Tae Yong juga sempat memberikan program latihan mandiri dan diet para pemain sebagai PR mereka selama program pemusatan latihan masih vakum.

Khusus untuk Timnas Indonesia U-19, para pemain diwajibkan mengirimkan bukti berupa foto mereka berlatih fisik ke staf pelatih.

Asisten Shin Tae Yong, Nova Arianto, mengatakan sejauh ini program yang diminta sang pelatih sudah berjalan dengan baik.

“Kami ada grup [Whatsapp] khusus untuk memantau para pemain [Timnas Indonesia U-19]. Mereka selalu kirim video latihan fisik di rumah masing-masing setiap hari. Masih bisa kami pantau terus,” terang Nova kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu via telepon.

Tim pelatih juga diakui Nova sudah membuat menu-menu nutrisi yang harus dikonsumsi para pemain Timnas Indonesia setiap hari, plus sejumlah pantangannya.

Meski demikian, PR para pemain untuk memantau diet makan yang tampaknya paling sukar dilakukan. Sulit bagi staf pelatih untuk memastikan para pemainnya tetap menjaga diet makan. Tantangan berat itu pun tak dimungkiri Nova.

“Ini memang yang paling berat karena menyangkut kebiasaan. Pada akhirnya usaha ini berpulang kepada para pemain masing-masing,” ujar Nova.

Perlakuan berbeda dilakukan staf pelatih kepada para pemain di Timnas Indonesia senior. Tak ada PR yang harus dijalankan para pemain selama masa vakum di sepak bola.

Nova menyebut para pemain Timnas Indonesia merupakan para profesional yang seharusnya mengerti dalam menjaga kondisi fisik mereka. Mereka biasanya sudah menjalankan program dari klub masing-masing.

Persoalannya adalah tidak semua klub terutama di Liga 1 memiliki standar bagus dalam ‘memaksa’ program kepada para pemain mereka. Bahkan, bisa dibilang nyaris tak ada klub yang punya aturan ketat dalam mengarahkan para pemain ketika berada di rumah masing-masing.

Belum lagi kedisiplinan para pemain di Indonesia, kerap menjadi problem tersendiri. Faktor non-teknis seperti ini tentu yang menjadi tantangan terberat Tae Yong.

“Lagi-lagi ini memang masalah kebiasaan masing-masing. Ya memang harus mau berubah karena pelatih kita [Timnas Indonesia] menetapkan standar tinggi, seperti di Korea Selatan.”

“Pelatih [Tae Yong] berapa kali menekankan tidak mungkin ada kompromi soal program fisik para pemain. Dia selalu bilang, strategi seperti apapun tak akan mungkin jalan jika level stamina saja masih jauh di bawah standar,” terang Nova.

Satu-satunya yang bisa dilakukan jajaran pelatih di bawah arahan Shin Tae Yong adalah penyesuaian kembali program latihan. Penekannya ada pada intensitas yang bakal ditingkatkan.

“Ke depan, latihan akan dilakukan tiga kali sehari pada TC [pemusatan latihan]. Pilihannya hanya itu, untuk bisa mendongkrak stamina para pemain,” terang Nova.

“Kalau soal senior, ya siap-siap saja kecewa lagi [soal stamina pemain] saat TC nanti. Mudah-mudahan tidak ada [kekecewaan besar lagi].”

Satu-satunya yang bisa dilakukan Tae Yong saat ini pun memanfaatkan waktu jeda untuk lebih mengenal kultur sepak bola di Indonesia.

Masa-masa ini pula seharusnya bisa dimanfaatkannya untuk berdiskusi dengan para stafnya, terutama pelatih lokal. Masukan-masukan apapun terutama terkait masalah non-teknis, bisa jadi pertimbangan penting baginya.

Tae Yong juga memiliki waktu untuk memahami masalah-masalah yang kerap terjadi di Indonesia, termasuk pula di level kompetisi. Pasalnya, di titik ini yang bakal membuat pusing kepala bagi sang pelatih.

Namun, situasi yang tidak menentu ini juga menambah beban Tae Yong dalam menangani Timnas Indonesia. Sang pelatih yang sempat tinggal di Jakarta, memilih pulang ke Korea Selatan.

Masa karantina di kampung negaranya mungkin bisa jadi waktu bagi Tae Yong untuk berpikir ulang. Pilihannya apakah tetap melanjutkan karier sebagai pelatih Merah Putih atau menyudahinya di tengah ‘Faktor X’ yang biasa menggelayuti sepak bola Indonesia. (bac)