3 Klub Jawa Tengah yang Mati Suri: Pernah Orbitkan Bambang Pamungkas dan Bintang Mitra Kukar

Sepak bola Jawa Tengah terus berjuang untuk terus menyumbangkan klub di kompetisi level tertinggi. Maklum saja, hingga saat ini hanya PSIS Semarang yang mentas di Liga 1 sejak 2018 silam.

Beruntung, tim Laskar Mahesa Jenar masih konsisten bermain di kompetisi tertinggi. Musim inipun sebelum liga berhenti, skuat asuhan Dragan Djukanovic juga berada di papan atas.

Sisanya, beberapa klub masih berjuang di level dua yakni Persis Solo, PSCS Cilacap, Persijap Jepara, dan Persekat Tegal. Dua klub yang disebut terakhir baru saja promosi ke Liga 2 plus gelar juara Liga 3 2019 yang diraih Persijap.

Sementara tim-tim lain masih berkutat di Liga 3 Jawa Tengah yang rutin digelar tiap tahunnya sebelum menuju tahapan selanjutnya. Banyak klub legendaris yang harus merangkak lagi dari kasta terendah seperti PSIR Rembang, Persiku Kudus yang sempat mencitipi kasta tertinggi medio 1990-an saat Liga Perserikatan.

Lalu ada PPSM Magelang yang merupakan salah satu pendiri PSSI yang juga masih berkutat di Liga 3. Meski demikian, ada beberapa klub yang seakan mati suri alias tidak mengikuti kompetisi, bahkan dalam waktu yang panjang.

Masalah finansial dan dukungan dari pemerintah yang kurang jadi alasan klasik yang sering terjadi. Padahal, tim-tim itu pernah mengorbitkan bintang-bintang pesepak bola Tanah Air hingga Timnas Indonesia.

Redaksi berita olahraga INDOSPORT pun mencoba merangkum tiga klub sepak bola di Jawa Tengah yang saat ini sedang mati suri.

Persika Karanganyar

Klub pertama adalah Persika Karanganyar. Tim yang berbasis di kaki Gunung Lawu atau sekitar 15 kilometer dari Kota Solo sudah vakum dari aktivitas kompetisi selama 10 tahun terakhir.

Paling banter, hanya Persika Junior yang masih mengikuti Piala Soeratin. Sementara tim senior tak mengikuti kompetisi Liga 3 Jawa Tengah.

Padahal, tim berjulukan Laskar Singo Lawu itu sempat mengorbitkan banyak pemain ke kompetisi kasta tertinggi. Bukti nyatanya adalah eks gelandang Persija Jakarta sekaligus bintang Mitra Kukar, Anindito Wahyu Erminarno.

Anindito sempat memperkuat Persika di Divisi II musim 2005-2006. Setahun sebelumnya, sosok berusia 31 tahun itu memperkuat Persika Junior di Piala Soeratin.

Performa apiknya membuat Persis Solo kepincut sehingga memboyongnya dari 2007-2009 sebelum akhirnya ke Mitra Kukar. Karir cemerlang Anidito semakin terlihat dengan membawa tim Naga Mekes promosi ke Liga Super Indonesia tahun 2010-2011 plus donasi delapan gol.

Tanda-tanda kebangkitan dari mati suri sebenarnya sudah muncul. Salah satunya renovasi Stadion Angkatan 45 Karanganyar.

“Kalau nanti stadionnya sudah jadi, ya pasti akan kita hidupkan lagi. Tapi dimulai dari menggelar kompetisi lokal terlebih dulu,” kata Bupati Karanganyar, Juliatmono beberapa waktu lalu.

Persiharjo Sukoharjo

Kemudian Persiharjo Sukoharjo yang merupakan tetangga dari Persika alas hanya berselebahan saja daerahnya. Tim asal Kota Makmur itu juga sudah lama vakum dari aktivitas kompetisi sepak bola Indonesia selama beberapa musim terakhir.

Padahal, klub berjuluk Laskar Honggopati itu medio 1990-an jadi salah satu tim yang disegani di Jawa Tengah. Sejumlah pemain tenar pun pernah diorbitkan klub yang bermarkas di Stadion Gelora Merdeka Jombor tersebut.

Sebut saja Putut Waringin Jati dan Dwi Joko Prihatin yang sempat jadi pemain andalan Persita Tangerang. Dwi juga malang melintang di sejumlah klub besar Tanah Air seperti

Sejuta potensi dari Putut Waringin Jati sampai Dwi Joko Prihatin. Mereka merupakan aset resmi yang pernah besar bersama Persiharjo Sukoharjo, Deltras Sidoarjom Persiba Balikpapan, hingga pensiun di Persis Solo.

Selain itu, Kabupaten Sukoharji juga melahirkan banyak pemain yang mentas di level profesional. Gelandang Persita sekaligus pemain terbaik Liga 2 2019, Taufik Febrianto merupakan putra asli Kota Makmur.

Persikas Semarang

Klub terakhir yang mati suri adalah Persikas Kabupaten Semarang. Tim yang bermarkas di Stadion Wujil itu musim lalu juga tak mengikuti kompetisi Liga 3.

Keberadaan PSIS Semarang yang berada di kota seakan jadi bayang-bayang tim Laskar Hanoman untuk terus eksis. Maklum saja, para suporter di Semarang Raya tentu lebih banyak memberikan dukungan untuk PSIS yang sedang berlaga di Liga 1.

Padahal jika menilik sejarah, Persikas sempat mengorbitkan pemain-pemain muda menjadi bintang masa depan sepak bola Indonesia. Salah satunya legenda Persija Jakarta, Bambang Pamungkas.

Sebagai sosok kelahiran Kecamatan Getas, Kabupaten Semarang, Bepe sempat membela klub tanah kelahiran Persika medio 1992. Performa terus moncer hingga akhirnya bergabung ke Diklat Salatiga.

Karier pemain kelahiran Semarang 10 Juni 1980 itu terus meroket hingga akhirnya bergabung dengan Persija Jakarta. Bersama tim Macan Kemayoran, suami dari Tri Buana Tunggadewi itu meraih dua gelar juara Liga Indonesia.(Ronald Seger Prabowo)