Sihir Bambang Pamungkas dan Boaz Solossa di Klub dan Timnas Indonesia

Bambang Pamungkas dan Boaz Solossa lahir pada era yang berbeda. Namun, hegemoni Bepe, panggilan Bambang, di Timnas Indonesia, sempat diganggu oleh Boaz.

Pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2004, Peter White, meminggirkan Bambang Pamungkas dari komposisi pemainnya akibat cedera. Pelatih asal Inggris itu memanggil Ilham Jaya Kesuma dan Kurniawan Dwi Yulianto sebagai penyerang bernomor sembilan. Elie Aiboy dan Bochi, sapaan akrab Boaz, mengapit striker tengah sebagai pemain sayap.

Timnas Indonesia berhasil melaju hingga babak final pada turnamen itu, namun kalah agregat 2-5 dari Singapura. Ilham keluar sebagai top scorer turnamen dengan tujuh gol dan Bochi menyarangkan empat gol. Perlu dicatat, pada tahun itu, Bochi masih berusia 17 tahun dan belum bermain di level klub profesional.

Lima tahun sebelumnya, Bepe mencetak debut bersama Timnas Indonesia pada 2 Juni 1999 saat menghadapi Estonia pada pertandingan persahabatan. Mirip dengan Bochi, Bepe melakoni penampilan perdananya pada usia muda, 19 tahun.

Karier Bepe bersama Timnas Indonesia lebih panjang dibandingkan Bochi. Namun, keduanya punya kesamaan, tidak pernah menyumbangkan gelar bergengsi untuk timnas.

Selama 14 tahun berbaju Timnas Indonesia, periode 1999-2013, Bepe mencatatkan 87 penampilan dan mengukir 38 gol.

Adapun, catatan gol Bochi untuk rentang 2004 sampai saat ini, jauh dibawahnya. Hanya 14 gol dari 48 laga. Penyebabnya beragam. Bomber Persipura Jayapura ini kerap absen pada turnamen yang dilalui timnas karena cedera dan posisi di awal kariernya bukan penyerang tengah seperti Bepe, melainkan winger.

Bepe pernah menjadi kecaman sejumlah pihak saat memutuskan mematuhi panggilan Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2012. Ketika itu, dualisme terjadi di lingkaran induk organisasi sepak bola Indonesia, antara PSSI dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Sebagai pemain dari Persija Jakarta yang berlaga di kompetisi Indonesia Super League (ISL) di bawah naungan KPSI, Bepe dianggap tidak seharusnya bermain untuk Timnas Indonesia yang dikomandoi oleh PSSI. Semasa itu, mayoritas pemain timnas berasal dari Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi resmi yang berseberengan dengan ISL.

Bepe menyatakan pensiun dari Timnas Indonesia pada 2013, enam tahun sebelum ia gantung sepatu dari dunia sepak bola.

“Cepat atau lambat, jersey merah-putih itu pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi, satu hal yang pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, tinggal di sana sampai akhir hayatku. Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku,” ujar Bepe.
“Awalnya saya pikir semuanya akan berjalan mudah. Tetapi, pada kenyataannya, tidak semudah yang terpikir di benak saya,” jelas Bambang Pamungkas.

Boaz Solossa dan Kisah Cedera Parah bersama Timnas Indonesia

Karier Bochi pernah dua kali nyaris tamat akibat cedera. Penyebabnya sama, yakni cedera mengerikan ketika membela Timnas Indonesia.

Momen yang paling diingat tentu ketika kaki Bochi patah saat memperkuat Timnas Indonesia melawan Hong Kong pada pertandingan uji coba, 2007 lalu. Saudara laki-laki dari mantan bek Persipura, Ortizan Solossa ini ditekel oleh pemain lawan yang membuatnya langsung terkulai.

“Setelah ditekel lawan, saya melihat kondisi kaki. Saat itu saya langsung berpikir tak akan bisa lagi main sepak bola. Cedera yang saya alami terlihat mengerikan,” imbuh Bochi.

Sebelumnya, pada laga final Piala AFF 2004, kaki Bochi juga sempat patah karena tekel pemain Singapura, Baihakki Khaizan. Namun menurut Bochi, cedera tersebut kalah mengerikan dibanding apa yang dialaminya di laga uji coba lawan Hongkong.

“Itu cedera saya paling parah,” ujar Bochi yang pulih harus menjalani pemulihan selama 10 bulan.

“Kuncinya adalah dukungan keluarga dan orang-orang dekat. Saya juga yakin Tuhan yang memberi jalan untuk sembuh,” tutur Bochi.

Dua tahun terakhir, nama Bochi tidak lagi menghiasi susunan pemain Timnas Indonesia. Dia mulai kalah bersaing dari pemain muda. Saat usianya telah menginjak 34 tahun, Bochi disinyalir tinggal menunggu momen yang tepat untuk mengundurkan diri dari timnas.

Boaz Pepet Bambang di Level Klub

Di level klub, pencapaian keduanya hampir berimbang. Bochi unggul dalam jumlah trofi Liga Indonesia, lima gelar dibanding dua milik Bepe. Namun, Bepe di atas Bochi berdasarkan pundi-pundi gol.

Selama 16 tahun berkancah di Liga Indonesia bersama Persija dan Pelita Bandung Raya (PBR), Bepe mengemas 178 gol. Untuk kategori ini, Bochi hanya tertinggal dua gol dari Bepe hingga musim ke-15 bersama Persipura.

Dengan usianya yang masih 34 tahun dan berpeluang bermain hingga 3-4 tahun lagi, Bochi berkesempatan besar menyalip Bepe. Selain itu, kansnya untuk menjadi runner up pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Indonesia juga besar mengingat ia hanya tertinggal sembilan gol dari Budi Sudarsono.

Untuk mengejar Cristian Gonzales sebagai pemain tersubur Liga Indonesia dengan torehan 249 gol, berat rasanya bagi Bochi lantaran produktivitasnya makin menurun. Pada tiga musim terakhir, dia hanya mampu mencatatkan 30 gol bagi Persipura.

Maka dari itu, menggeser Bepe dan Budi adalah target yang paling realistis baginya sebelum pensiun nanti.