Dahsyatnya Skuat Pelita Solo Musim Perdana: Bintang Timnas Indonesia di Semua Lini

Pelita Solo musim perdana atau di Liga Indonesia 1999/2000 jadi salah satu tonggak besar sepak bola di Kota Solo. Publik pecinta sepak bola di Bumi Bengawan kembali ‘mendapatkan’ klub berlabel papan atas setelah bubarnya Arseto Solo.

Euforia penikmat olahraga terpopuler se-sjagad raya kembali muncul di Solo. Terbentuknya suporter Pasoepati yang saat itu singkatan dari Paguyuban Suporter Pelita Sejati jadi salah satu bukti nyata.

Apalagi Stadion Manahan yang menjadi stadion termegah di Jawa Tengah saat itu sudah bisa digunakan usai rampungnya pembangunan. Tak pelak, gairah penikmat sepak bola di sana kembali menggebu-gebu.

Berlabel klub besar, pindahnya Pelita dari Jakarta ke Solo sejatinya juga diikuti hengkangnya sejumlah bintang seperti Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto. Namun, kondisi itu tetap tak melunturkan dahsyatnya skuat Pelita Solo di musim perdana.

Apalagi tim miliki Nirwan Darmawan Bakrie itu meraih prestasi cukup apik dengan mampu lolos ke babak 8 besar. INDOSPORT coba merangkum komposisi terbaik Pelita Solo di musim perdana dengan label penghuni Timnas Indonesia di penjuru lini.

Kiper:
Listianto Raharjo salah satu kiper legendaris Pelita Solo selain Andi Iswantoro yang sama-sama pernah berseragam Timnas Indonesia. Bejo, sapaan akrab Listianto Raharjo dikenal sebagai seorang kiper yang cekatan dan tangguh dalam menjaga gawang pada era 80-an hingga awal 90-an.

Belakang:
Lini belakang ada jebolan Timnas Garuda termasuk juga eks PSSI Primavera di Italia. Dimulai dari sosok Eko Purjianto yang saat itu jadi salah satu bek tengah terbaik yang dimiliki Indonesia.

Jika menyebut nama Aples Gideon Tecuari, tentu pecinta sepak bola tak bisa lepas dari sosok pemain yang lugas, keras dan tanpa kompromi.

Membawa Irian Jaya (sebelum berganti nama Papua) meraih medali emas pada PON ke-13 tahun 1993 di Jakarta merupakan tonggak Aples yang kemudian menjelma sebagai stopper tangguh baik di liga maupun Timnas Indonesia.

Pelengkap trio lini belakang tentu saja bek legendaris asal Kamerun, Olinga Atangana. Dia terkenal sebagai bek tengah tanggung yang sulit dilewati pemain depan lawan-lawannya.

Olinga pernah mengantarkan Bandung Raya juara Liga Indonesia II atau musim 1995-1996. Lalu prestasi yang sama ditorehkan bersama Persija Jakarta pada tahun 2001.

Tengah:
Sektor tengah Pelita Solo saat itu terkenal sebagai salah satu yang terbaik di Liga Indonesia. Dimulai dari I Made Pasek Wijaya. Sosok yang dijuluki Si Kijang tersebut merupakan pemain idola suporter Pasoepati kala itu.

Ayah dari bek Bali United, I Made Andhika Wijaya itu pernah jadi bagian Timnas Indonesia saat meraih medali perunggu SEA Games 1989. Dia juga masuk dalam skuat Pra Piala Dunia edisi 1990.

Kemudian, jebolan Timnas Barreti dan Primavera menghiasi lini tengah lain yakni Haryanto ‘Tommy’ Prasetyo dan Trimur Vedhayanto. Tommy terkenal memiliki tendangan canonball, sementara Trimur merupakan pengatur permainan Pelita Solo.

Lanjut ke sosok Seto Nurdiyantoro. Meski fasih sebagai seorang striker, namun pelatih PSIM Yogyakarta itu banyak ditempatkan sebagai gelandang serang.

Mengandalkan kecepatan dan visi bermain, Seto menjelma sebagai pemain papan atas yang membuatnya dipanggil Timnas Indonesia di Piala Tiger 2000. Bahkan di musim kedua, pria berusia 45 tahun itu pernah mencatatkan prestasi fenomenal dengan mencetak empat gol saat Pelita Solo mengalahkan PSS Sleman di laga pamungkas musim 2001.

Nama terakhir yang mengisi sektor wing back kiri di formasi 3-5-2 adalah Alexander Pulalo. Siapa yang tak kenal sosok asal Papua tersebut. Selama kariernya Alex sempat membela timnas U-16, U-19, dan Timnas Senior Indonesia di kancah Pra Piala Dunia dan Piala Asia.

Depan:
Beralih ke lini depan, ada duet mematikan yakni Indrianto Nugroho dan penyerang asal Kamerun Bako Sadissou. Nunung, sapaan akrab Indrianto yang juga kakak kandung Tommy merupakan bomber jebolan Timnas Primavera.

Sementara Bako merupakan salah satu penyerang asing terbaik saat itu. Catatan sebagai mantan top scorrer Liga Indonesia edisi 1999 jadi salah satu bukti sah. Apalagi setelah hengkang dari Pelita Solo, sosok yang kini berusia 44 tahun itu jadi penyerang andalan Barito Putera yang kemudian menjadi legenda tim Laskar Antasari.

Di samping 11 pemain itu, masih banyak lagi pemain-pemain Pelita Solo selama dua musim lainnya yang berlabel timnas. Mulai bek Gusnaedi Adang yang juga jebolan PSSI Primavera.

Lalu mantan pemain termahal Liga Indonesia yaitu Ansyari Lubis, bek Leo Soputan, Zaenal Anwar, hingga gelandang Timnas Indonesia di SEA Games 2001, Maman.