Cerita Lawas Pelita Jaya, Klub Kaya Indonesia Level Asia yang Terlupakan

Madura United termasuk klub papan atas era Liga 1. Setiap awal musim, mereka selalu mencuri perhatian dengan merekrut pemain bintang untuk bergabung dalam tim.

Namun, pada akhir kompetisi klub berjuluk Laskar Sape Kerap ini selalu gagal meraih trofi juara. Kiprah sementara ini tak sebanding dengan Pelita Jaya, klub yang merupakan cikal bakal Madura United.

Pelita Jaya, yang kepemilikan saham terakhirnya dikuasai oleh Ari D. Sutedi dengan nama Pelita Persipasi Bandung Raya dijual ke Achsanul Qosasi. Nama terakhir memboyong klubnya itu bermarkas di Stadion Gelora Bangkalan dan Stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan.

Nama Pelita Jaya pun terlupakan setelah resmi berganti menjadi Madura United pada 10 Januari 2016. Padahal, Pelita Jaya yang berdiri pada 1986 kental mewarnai perjalanan kompetisi sepak bola Indonesia.

Kiprah perdana mereka di era Galatama langsung menarik perhatian publik dengan mengalahkan juara musim sebelumnya, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB).

Di Stadion Menteng Jakarta Pusat, 31 Agustus 1986, tim yang diasuh oleh Rahim Soekasah, Bertje Matulapelwa, dan Benny Dollo menekuk KTB 1-0. Gol tunggal kemenangan Pelita Jaya dicetak oleh Bambang Nurdiansyah. Pada pengujung kompetisi, Pelita Jaya akhirnya bertengger di peringkat dua setelah kalah 2-4 dari KTB pada partai final.

Pelita Jaya mengulang raihan mereka pada musim berikutnya. Pada final musim 1987-1988, Pelita Jaya kalah 1-2 dari Niac Mitra. Dua musim berikutnya, tim yang saat itu dimodali pengusaha Nirwan Bakrie ini berturut-turut meraih trofi juara Galatama musim 1988-1989 dan 1990.

Pelita Jaya menutup era kejayaan mereka di kompetisi Galatama dengan menjadi juara pada musim 1993-1994. Total, Pelita menjadi klub yang paling sering menembus final Galatama yakni lima kali plus tiga trofi juara.

Level Asia

Pada ajang penting lainnya yakni Piala Utama yang mempertemukan jagoan Galatama dan Perserikatan, Pelita Jaya pernah meraih trofi juara pada 1992. Di level internasional, nama Pelita Jaya pun menggema di Piala Champions Asia.

Pada kompetisi tertinggi kawasan Asia ini, Pelita Jaya yang ditangani Benny Dollo berhasil menembus semifinal pada musim 1991, plus memunculkan Bambang Nurdiansyah sebagai top scorer dengan lima gol.

Materi terbaik Pelita Jaya saat itu merupakan paduan pemain muda dan senior. Di antaranya Listianto Raharjo, I Made Pasek Wijaya, Bonggo Pribadi, Herrie Setiawan, Tias Tono Taufik, Ely Idris, Maman Suryaman, Rully Nere, Alexander Saununu, Noah Meriem plus Bambang Nurdianyah.

Nama mereka pun menghiasi daftar pemain tim nasional Indonesia kala itu. Pelita Jaya menjadi klub pertama Indonesia yang memiliki fasiltas dan sarana pendukung layaknya klub profesional di Eropa.

Selain menyewa secara jangka panjang Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sebagai markas, mereka juga memiliki kompleks latihan di Sawangan dengan fasilitas lengkap. Di antaranya dua lapangan bola, kolam renang, mes pemain, ruang fitnes dan bioskop mini.

Era Liga Indonesia

Pada 1994, Pelita Jaya termasuk klub yang memotori penyatuan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia. Status sebagai juara terakhir Galatama jadi modal Pelita Jaya berkiprah di kasta tertinggi kompetisi tanah air.

Pelita Jaya pun menyemarakkan kompetisi dengan mendatangkan Roger Milla yang baru pensiun dari Timnas Kamerun. Meski usianya sudah kepala empat, aksi Milla jadi tontonan menghibur. Dalam semusim bersama Pelita Jaya, Milla mencetak 23 gol dalam 23 partai.

Sayang, Pelita Jaya yang begitu dominan pada penyisihan wilayah Barat dengan menjadi juara, tersingkir di babak 8 Besar. Seperti diketahui, trofi juara Liga Indonesia musim perdana diraih oleh Persib Bandung yang mengalahkan Petrokimia Putera 1-0 di final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

Status sebagai tim bermaterikan pemain bintang tetap disandang Pelita Jaya pada musim berikutnya. Tapi, mereka tetap gagal bersinar. Pada musim 1997/1998, Pelita Jaya mencoba memutus rekor minor mereka.

Di bawah kendali Nurdin Halid, pengusaha asal Makassar, Pelita menjelma jadi tim menakutkan. Materi pemain berkelas di Liga Indonesia saat itu, Maboang Kessack, Carlos de Mello dan Dejan Gluscevic ada dalam tim.

Di sektor pemain lokal, jebolan PSSI Primavera yang dimotori Kurniawan Dwi Yulianto, striker muda terbaik Indonesia turut bergabung. Sebagai mentor, Pelita Jaya masih mempertahankan pemain era Galatama seperti Ansyari Lubis, I Made Pasek Wijaya, dan Listianto Raharjo.

Sayang, kompetisi harus terhenti di tengah jalan karena kondisi politik dan ekonomi Indonesia tidak kondusif. Penampilan Pelita yang tengah menanjak dengan Kurniawan menjadi top scorer sementara gagal berujung gelar.

Jadi Tim Musafir

Setelah itu, Pelita Jaya mengalami periode sulit. Puncaknya, sejak 2002, mereka menjadi tim musafir sesuai keinginan pemodal yang ingin membiayai operasional klub.

Nama klub pun disesuaikan dengan nama kota tempat mereka bermarkas. Mulai dari Pelita Solo (2000-2002), Pelita Krakatau Steel Cilegon (2002-2006), Pelita Jaya Purwakarta (2006-2007), Pelita Jawa Barat (2008-2009), Pelita Jaya Karawang (2010-2012).

Kemudian Pelita Bandung Raya (2012-2015), Pelita Persipasi Bandung Raya (2015) dan akhirnya berganti nama menjadi Madura United pada 2016 setelah saham mayoritasnya dibeli oleh Achsanul Qosasi.

Ketika berganti nama menjadi Pelita Bandung Raya (PBR), mereka sempat menarik perhatian publik pada Liga Super Indonesia 1994. PBR yang ditangani Dejan Antonic berhasil menembus semifinal.

Langkah Bambang Pamungkas dan kawan-kawan dihentikan oleh Persipura Jayapura yang mengalahkan mereka dengan skor 2-0. Pada musim ini, Persib Bandung yang keluar sebagai juara setelah menekuk Persipura lewat adu penalti. (bola.com)