Mengulas Kehebatan Indra Sjafri dan Fakhri Husaini di Timnas Indonesia Kelompok Umur, Sama-sama Bergelimang Prestasi

Sejarah mencatat bahwa Indra Sjafri dan Fakhri Husaini adalah dua pelatih tersukses Timnas Indonesia di level kelompok umur. Keduanya sama-sama pernah membawa timnas kelompok umur meraih gelar juara Piala AFF.

Dibanding Fakhri, Indra Sjafri lebih bergelimang gelar di Timnas Indonesia level usia. Bersama timnas U-19, pelatih berkumis tebal ini meraih Piala AFF U-19 2013. Bersama timnas U-22, arsitek berusia 57 tahun itu membawa pulang trofi Piala AFF U-22 2019.

Selain itu, di level turnamen, Indra Sjafri pernah merengkuh dua penghargaan HKFA International Youth Football Invitation Tournament. Pada 2012 bersama timnas U-17 dan dengan timnas U-19 setahun berselang.

Dari penelusuran Bola.com, Indra Sjafri juga dinobatkan sebagai pelatih terbaik 2014 setelah keberhasilannya mengantar Timnas Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 2013.

“Saya ucapkan terima kasih, tapi rasanya kalau pelatih terbaik saya kurang tepat. Yang benar adalah, saya adalah pelatih yang menjalankan yang semestinya dijalankan,” ujar Indra Sjafri medio Maret 2014.

Sukses di Tim Nasional, Melempem di Klub

Indra Sjafri tidak pernah benar-benar menjadi pemain profesional. Ia hanya berstatus pemain junior PSP Padang pada 1981. Ia juga pernah bekerja sebagai karyawan di kantor pos di Sumatera Barat.

PSSI mengangkat Indra Sjafri sebagai pemandu bakat dan instruktur kepelatihan sejak Mei 2009. Dua tahun berselang, ia menjadi pelatih Timnas Indonesia U-16/U-17.

Jabatan Indra Sjafri kembali naik saat ia ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19 periode 2012-2014. Bosan di level timnas, pria kelahiran Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini mencoba peruntungan berkarier di level klub dengan menangani Bali United pada 2015-2016.

Karier Indra Sjafri di level klub tidak secemerlang di level tim nasional. Mulanya, ia dikontrak selama lima tahun oleh Bali United sejak 2015. Namun, karena pencapaian tim berjulukan Serdadu Tridatu itu tidak kunjung konsisten, kedua belah pihak memutuskan untuk mengakhir kerja sama pada awal 2017.

Takdir lalu mempersatukan kembali Indra Sjafri dengan Timnas Indonesia U-19 untuk masa 2017-2018 sebelum dipromosikan ke timnas U-22 pada 2019.

Predikat Indra Sjafri sebagai pelatih Timnas Indonesia U-22 mulai tergerus seiring kedatangan Shin Tae-yong. PSSI menjadikan pelatih asal Korea Selatan itu sebagai supervisi atau penanggung jawab timnas seluruh kategori.

Sempat dikabarkan cekcok dengan Shin Tae-yong, Indra Sjafri ditetapkan sebagai Direktur Teknik (Dirtek) PSSI mulai tahun ini. “Mengenai kabar yang beredar, berselisih dengan Shin Tae-yong, itu tidak benar,” ujar Indra Sjafri kepada Bola.com, Februari 2020.

Fakhri Husaini Lebih Bersinar sebagai Pemain

Fakhri Husaini, Timnas Indonesia U-19
Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini. (Bola.com/Yoppy Renato)
Fakhri Husaini jauh lebih mentereng sebagai pemain dibanding Indra Sjafri. Dia adalah legenda hidup dari Pupuk Kaltim. Sembilan tahun Fakhri bermain di sana. Pencapaian tertingginya adalah membawa tim kebanggaan Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) itu melaju hingga babak final Liga Indonesia 1999-2000.

Selain itu, Fakhri juga merupakan langganan Timnas Indonesia semasa masih aktif bermain. Pernah suatu waktu ia membawa timnas ke babak partai puncak SEA Games 1997. Mengemban ban kapten tim, ia gagal merebut medali emas setelah kalah 2-4 dari Thailand melalui babak adu penalti. Fakhri disebut-sebut playmaker terbaik Indonesia pada masa itu.

Pada 2001, pria kelahiran 27 Juli 1965 itu pensiun dan banting setir menjadi asisten pelatih Pupuk Kaltim hingga 2003. Pada 2004-2005, ia dipercaya sebagai tangan kanan Peter White di Timnas Indonesia U-23.

Kesempatan pertama Fakhri berperan sebagai pelatih kepala datang pada 2007 saat ia menangani Tim PON Kaltim pada 2007-2008. Alih-alih meraih medali emas lantaran berstatus tuan rumah, pengalaman pertama Fakhri sebagai pelatih kepala diakhiri dengan torehan medali perunggu di PON Kaltim 2008 silam.

Namun, hasil itu telah cukup untuk mengantar Fakhri ke kursi pelatih Bontang FC, yang dulunya bernama Pupuk Kaltim, pada 2008-2009 dan 2009-2010.

Dari level klub, Fakhri merambah ke level timnas. PSSI memercayainya untuk melatih Timnas Indonesia U-14 dan U-17 pada 2014. Namun, banned FIFA kepada PSSI pada 2015 mengacaukan semua program kerjanya.

Setelah banned dicabut, Indonesia kembali aktif berkancah di level internasional pada 2017. Fakhri ketika itu masih menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia U-16.

Bersamanya, Timnas Indonesia U-16 merengkuh satu gelar bergengsi, Piala AFF U-16 2018 dan dua trofi turnamen Turnamen Jenesys 2018 dan Tien Phong Plastic Cup 2017.

Pecah Kongsi dengan PSSI

Untuk memuluskan program kepelatihannya, Fakhri dipromosikan ke Timnas Indonesia U-19 pada 2019 dengan sebagian besar pemainnya adalah didikannya di timnas u-19. Namun, sepanjang tahun lalu, tim berjulukan Garuda Muda itu gagal menorehkan prestasi.

Fakhri mulai gusar setelah PSSI mendatangkan Shin Tae-yong beserta staf kepelatihannya dari Korea Selatan. Para tangan kanan pria berusia 50 tahun itu difungsikan sebagai pelatih di timnas level usia.

Dengan begitu, peran Fakhri akan memudar dan PSSI berencana untuk memberdayakannya sebagai asisten pelatih di Timnas Indonesia U-19, yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U-20 2021. Dengan tegas, pelatih berusia 54 tahun ini menolaknya mentah-mentah.

“Saya direncanakan sebagai asisten pelatih. Tidak ada tantangan. Kalau mencari aman, posisi itu saya ambil. Tapi, saya bukan tipe seperti itu. Saya tidak akan meninggalkan pekerjaan dan keluarga kalau seperti itu. Saya bukan merendahkan Shin Tae-yong. Saya yakin akan dapat banyak ilmu, tapi buat saya bukan seperti itu,” ucap Fakhri, Januari 2020.

“Kalau saya jadi asisten, tidak ada yang saya berikan untuk negara. Sedangkan saya sudah meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Saya ingin ada tantangan. Saya beserta teman-teman lain yang meloloskan Timnas Indonesia U-19 ke Piala AFC U-19 2020. Kemudian kalau saya jadi asisten, lalu asisten saya sebelumnya ke mana? Saya tidak ingin selamat sendirian,” tuturnya.

Setelah lepas dari PSSI, terutama Timnas Indonesia U-19, Fakhri kembali ke kantor sebagai Manager Coorporate Social Responsibility (CSR) PT Pupuk Kaltim. Suatu waktu kepada Bola.com, dia bilang tak mungkin kembali melatih di level klub, kecuali perusahaan tempatnya bekerja merestuinya.

Prestasi Indra Sjafri dan Fakhri Husaini

Indra Sjafri
Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, saat laga kontra Vietnam di Stadion Rizal Memorial, Manila, Minggu (1/12/2019). (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)
Indra Sjafri

Pemain: –

Pelatih:

Juara Piala AFF U-22 2019 bersama Timnas Indonesia U-22
Juara Piala AFF U-19 2013 bersama Timnas Indonesia U-19
Juara HKFA International Youth Invitational Tournament 2013 bersama Timnas Indonesia U-19
Juara HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012 bersama Timnas Indonesia U-17
Pribadi:

Pelatih Terbaik 2014 versi Komite Olimpiade Indonesia
Fakhri Husaini

Pemain:

Semifinalis Liga Indonesia bersama 1994-1995 bersama Pupuk Kaltim
Medali perak SEA Games 1997 bersama Timnas Indonesia
Finalis Liga Indonesia 1999-2000 bersama Pupuk Kaltim
Pelatih:

Juara Piala AFF U-16 2018 bersama Timnas Indonesia U-16
Juara Turnamen Jenesys 2018 bersama Timnas Indonesia U-16
Juara Turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 bersama Timnas Indonesia U-16
Pribadi: –