Pelatih PSM Makssar Kritik Kebijakan PSSI Terkait Pemotongan Gaji Pemain

Pandemi Covid-19 atau virus Corona di seluruh dunia, terkhusus Indonesia memberi dampak luar biasa di berbagai sektor.

Di dunia sepak bola misalnya, nyaris seluruh negara menghentikan semua kompetisi sepakbolanya di tengah jalan, guna menghentikan wabah virus asal Wuhan, Tiongkok ini.

Pelatih PSM Bojan Hodak menyebut masa depan klub sepak bola akan sangat suram jika pandemi Covid-19 terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

Menurut Bojan, klub-klub kecil yang membentuk 95 persen sepak bola dunia, bisa saja akan bangkrut, jika liga dihentikan ditinggalkan lebih dari tiga bulan.

Menurutnya, jika industri sepak bola dilanjutkan setelah pandemi ini diatasi, akan memakan waktu antara enam hingga 12 bulan untuk kembali seperti semula.

“Banyak klub di seluruh dunia sudah berjuang. Misalnya klub Slovakia, Zilina, akhirnya bangkrut setelah meminta para pemain untuk memotong gaji 80 persen. Mereka adalah klub Eropa pertama yang masuk ke likuidasi sejak wabah Corona,” ujar Bojan dilansir dari wawancaranya dengan New Straits Times.

Mantan pelatih timnas Malaysia U-19 ini memberi contoh lain, di A-League Australia, saat mantan juara Asia Western Sydney Wanderers bersama Newcastle Jets, Adelaide United, Central Coast Mariners, dan Perth Glory memilih untuk memberhentikan para pemain dan staf mereka saat menghadapi Covid-19.

“Di Liga Premier Inggris, klub menginginkan pemain untuk menerima rencana penangguhan upah sementara sebagian besar tim di La Liga, Bundesliga, Serie A dan Ligue memangkas gaji,” terangnya.

Bojan mengatakan, pemotongan gaji tidak baik untuk bisnis, karena dalam sepak bola hal itu adalah masalah bertahan hidup, terutama untuk klub-klub kecil.

“Semua klub akan menderita konsekuensi jika tidak ada sepak bola selama lebih dari tiga bulan karena mereka akan kehilangan koleksi gerbang, sponsor dan hak siar,” kata Hodak.

“Sepakbola tidak akan sama lagi bahkan setelah Covid-19 diberantas. Klub akan membutuhkan antara enam dan 12 bulan untuk kembali ke jalur finansial,” sambungnya.

Menurutnya, klub besar memiliki aset dan dapat mengambil pinjaman untuk bertahan, tetapi Ia tidak yakin dengan klub yang lebih kecil akan dapat bertahan.

“Bank mungkin tidak memberikan pinjaman kepada klub yang lebih kecil. Liga-liga top Asia seperti K-League, J-League dan Chinese Super League memiliki uang dan klub-klub mereka menerima bantuan dari panitia. Namun, saya khawatir tentang liga-liga di Asia Tenggara. Beberapa klub bergantung sepenuhnya atau sebagian pada dana dari pemerintah atau agensi masing-masing,” jelasnya.

Ia juga menyebut dana yang dimiliki klub awalnya, sekarang digunakan untuk melawan Covid-19.

“Ini akan menjadi masalah yang lebih besar jika klub-klub ini tidak memiliki banyak sponsor. Dan itu lebih buruk untuk klub yang sudah terlilit hutang. Para pemain mereka akan menderita,” pungkasnya.

Pelatih yang pernah meraih treble di Liga Malaysia ini juga menyinggung kebijakan PSSI yang meminta klub membayar hanya 25 persen gaji.

“Ada masalah di liga Indonesia sekarang. PSSI mengumumkan bahwa semua tim diizinkan untuk membayar maksimal hanya 25 persen dari gaji para pemain selama dua bulan ke depan. Yang aneh adalah bahwa itu tidak didiskusikan dengan asosiasi yang mewakili pemain dan pelatih,” keluhnya.

“PSSI telah menangguhkan liga Indonesia, dan jika situasinya menjadi lebih baik, kemungkinan akan berlanjut pada 1 Juli tetapi beberapa kompetisi mungkin batal,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul Bojan Hodak: Pemotongan Gaji Tak Baik untuk Sepak Bola.