Pertemuan PSIM dan Seto Nurdiyantoro Jadi Deja Vu Musim 2015

PSIM Yogyakarta dan pelatihnya, Seto Nurdiyantoro, harus menahan hasrat untuk menjalani kompetisi musim ini.

PSSI secara resmi menghentikan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 hingga 29 Mei mendatang dengan opsi liga tidak akan dilanjutkan apabila pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat COVID-19.

Sama halnya terjadi pada 2015, kompetisi saat itu juga dihentikan akibat intervensi dari Menteri Pemuda dan Olahraga terkait dualisme klub.

PSIM Yogyakarta yang saat itu berlaga di Divisi Utama juga mendapatkan imbasnya karena penghentian kompetisi.

Menariknya sama seperti pada tahun 2015, Laskar Mataram saat itu juga diarsiteki oleh Seto Nurdiyantoro.

Serasa deja vu, pertemuan kembali Seto Nurdiyantoro dengan PSIM musim ini malah seperti mengulangi kisah masa lalu.

Hal itu juga diungkapkan oleh gelandang PSIM Yogyakarta, Raymond Tauntu, yang saat itu juga masuk dalam tim Seto Nurdiyantoro.

“Terkadang sampai tidak habis pikir. Kok bisa situasinya hampir sama dengan 2015, apalagi saat itu juga dilatih Coach Seto. Situasi tim juga saya rasakan hampir sama, seperti keluarga,” kata Raymond dikutip BolaSport.com dari Tribun Jogja.

Seakan memang seperti mengulangi masa lalu, Raymond menambahkan bahwa skuad PSIM pada musim ini dan musim 2015 sama-sama berisikan pemain muda tanpa bintang.

“Tahun 2015 tim PSIM juga tidak dihuni pemain bintang, sama halnya dengan musim 2020. Kalau saya katakan, mungkin materi tim tidak diisi pemain bintang, tetapi sama-sama ditakuti lawan,” imbuh pesepak bola asal Makassar ini

Penghentian kompetisi pantas disayangkan PSIM karena datangnya Seto Nurdiyantoro ke klub asal Yogyakarta tersebut menjadi kabar baik bagi para pendukungnya, Brajamusti.

Mereka berharap mantan pelatih PSS Sleman itu dapat membawa PSIM menuju kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Namun, tragedi wabah virus corona tidak mampu dihindari dan kompetisi dihentikan, bahkan ada kemungkinan tidak dilanjutkan hingga akhir musim.