Malaysia ‘Lockdown’, Kurniawan Dwi Yulianto Lebih Pilih Bertahan

Wabah corona yang sedang merebak di dunia membuat beberapa negara harus mengkarantina wilayah atau lockdown. Malaysia menjadi salah satu negara yang mengkarantina wilayah demi mempersempit penyebaran virus corona.

Salah satu pelaku sepakbola asal Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, juga terkarantina di Malaysia. Kurniawan yang kini sedang berkarier sebagai pelatih kepala Sabah FA di Liga Super Malaysia terkunci di dalam negara berpenduduk 32 juta jiwa itu.

Menjadi salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Malaysia, Kurniawan mengungkapkan kekhawatirannya. Apalagi tempat Kurniawan bekerja sekarang menjadi negara bagian dengan kasus COVID-19 terbesar ketiga di Malaysia.

Untuk itu, salah satu upaya yang dilakukan Kurniawan dalam menangkal COVID-19 adalah dengan mematuhi aturan pemerintah setempat, yakni dengan sebisa mungkin tidak keluar dari tempat tinggal.

“Khawatir pasti, karena virus ini memang cepat sekali penyeberannya. Jadi, apa yang kami lakukan adalah mematuhi arahan pemerintah demi keselamatan bersama,” ujar Kurniawan.

“Untuk lockdown kali ini diberlakukan di seluruh Malaysia, dan Sabah setahu saya ada di peringkat ketiga [negeri bagian di Malaysia terparah karena kasus corona],” kata Kurniawan menambahkan.

Sebelum pemerintah Malaysia memberlakukan lockdown, Kurniawan sebetulnya masih punya kesempatan pulang ke Indonesia. Hanya saja, ia memilih bertahan di Kota Kinabalu, Sabah, karena merasa memiliki tanggung jawab atas pekerjannya.

Selain itu, Kurniawan juga memiliki istri, dan anak-anak yang merupakan Warga Negara Malaysia. Saat ini, ia dan keluarga memang berdomisili di Kuching, Sarawak.

“Saya memilih tetap bertahan di sini karena memang ada tanggung jawab terhadap tim dan keluarga juga ada di sini,” ucap Kurniawan.

Meski dalam keadaan darurat corona, Kurniawan tetap memberikan program mandiri kepada para anak asuhannya. Eks Persebaya Surabaya itu berupaya untuk menjaga kebugaran para pemain Sabah di tengah pembatasan aktivitas yang dilakukan pemerintah Malaysia.

“Kami mengikuti arahan dari pemerintah, federasi sepakbola Malaysia, dan Malaysia Football League [operator liga] demi keselamatan bersama, untuk tidak melakukan aktivitas latihan mulai 18- 31 Maret,” urai Kurniawan.

“Jadi sebagai tim pelatih, kami buat individual training program yang akan mereka lakukan di rumah masing-masing, untuk menjaga kebugaran mereka,” tambahnya.

Dalam data yang dirilis WHO atau otoritas kesehatan tertinggi milik PBB, Malaysia menjadi negara dengan serangan corona peringkat 18 dunia, atau nomor satu di Asia Tenggara. Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia itu, kini memiliki pasien positif virus corona sebanyak 900 jiwa, dua di antaranya meninggal dan sebanyak 75 jiwa berhasil sembuh.

Menjadi negara dengan kasus corona terparah di Asia Tenggara, Kurniawan pun mengutarakan rasa optimistis akan berakhirnya wabah ini. Ia yakin Malaysia bisa pulih kembali lantaran banyak warga di Malaysia saat ini yang taat akan imbauan pemerintah.

“Sejauh ini, memang warga di sini mengikuti semua arahan dari pemerintah. Mudah-mudahan setelah tanggal 31 [Maret] tidak ada korban yang bertambah sehingga tidak perlu diadakan perpanjangan masa lockdown,” harap Kurniawan.

Kurniawan bukan satu-satunya pelaku sepakbola Indonesia yang terkena karantina wilayah akibat COVID-19. Bek timnas Indonesia, Yanto Basna, juga tak bisa keluar dari Thailand tempat ia berkarier sekarang. Diketahui Yanto saat ini membela salah satu klub peserta Thai League 1, PT Prachuap FC.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.