APPI Protes Keras Klub Bermasalah Boleh Tampil Di Liga 2 2020

Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), tak habis pikir sejumlah klub yang bermasalah diperbolehkan berlaga di Liga 2 2020. Padahal, seharusnya mereka tidak diizinkan berlaga.

Ada lima klub Liga 2 2020 yang belum membayarkan utang gaji ke para pemainnya. Mereka adalah PSPS Riau, Kalteng Putra, Mitra Kukar, Perserang Serang, serta PSMS Medan.

Bahkan, PSPS seharusnya tidak dapat mendaftarkan pemain baru selama tiga periode karena dihukum National Dispute Resolution Chamber (NDRC) yang merupakan program percobaan FIFA dan dipercayakan kepada PSSI. Kondisi tersebut akibat mereka belum melunasi kewajibannya.

Lebih parahnya lagi, Liga 2 tetap berjalan meski Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), belum mengeluarkan rekomendasi. Padahal, surat tersebut menjadi syarat mutlak untuk mengurus izin keramaian kepada kepolisian.

Persiba Balikpapan versus Kalteng Putra, dipercaya menjadi laga pembuka Liga 2 2020. Duel itu berakhir untuk kemenangan Persiba dengan skor 3-2 di Stadion Batakan, Sabtu (14/3).

Saat ini seluruh pertandingan Liga 2, ditunda selama 14 hari ke depan mulai 16 Maret 2020. Keputusan tersebut diambil untuk mencegah penyebaran virus corona di tanah air semakin meluas.

Berikut sikap APPI terhadap klub-klub bermasalah di Liga 2 2020:

1. APPI protes keras terhadap proses verifikasi yang tidak mengikuti regulasi FIFA yang sudah diberlakukan secara global dalam sepakbola yaitu Club Licencing Regulation yang dalam salah satu aspeknya ialah masalah financial yang harus diselesaikan dan menjadi salah satu indikator utama suatu klub dapat mengikuti kompetisi sepakbola profesional.

2. Bahwa klub-klub seperti PSPS Riau, PSMS Medan, Kalteng Putra, Perserang dan Mitra Kutai Kertanegara masih memiliki tunggakan gaji di kompetisi
sebelum-sebelumnya dan belum ada kesepakatan mengenai pembayarannya namun terjadi pembiaran sehingga klub-klub bermasalah tersebut tetap dapat mengikuti kompetisi Liga 2 meskipun belum memenuhi aspek financial dalam regulasi.

3. Bahwa APPI telah mengawal proses verifikasi sebagaimana tersebut di atas dengan maksimal sehingga sampai dengan saat ini pun BOPI belum mengeluarkan rekomendasi untuk pelaksanaan Kompetisi Liga 2 Tahun 2020 namun ternyata kompetisi tetap berjalan dengan tetap mengikutsertakan klub-klub yang bermasalah dimaksud.

4. Bahwa hal lain yang membuat kami sangat kecewa dan berang adalah adanya pelecehan hukum oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dari suatu Lembaga Penyelesaian
Sengketa Nasional amanat dari Circular FIFA nomor 1129 yaitu National Dispute Resolution Chamber (NDRC) yang juga merupakan pilot project FIFA.

5. Putusan NDRC yang menghukum klub PSPS Riau untuk tidak dapat melakukan pendaftaran pemain baik tingkat nasional maupun internasional selama 3 (tiga) periode transfer sebelum melakukan pembayaran gaji pemain
yang masih tertunggak diacuhkan dan tidak diindahkan oleh PSSI dan PT LIB dengan tetap membolehkan klub PSPS Riau mengikuti kompetisi Liga 2 Tahun 2020.

6. Bahwa terhadap poin nomor 4 di atas kami sudah langsung berkomunikasi dan melaporkan hal ini kepada FIFA dan FIFPro untuk memproses dan menindak
terhadap adanya pelanggaran terhadap Lembaga penyelesaian sengketa yang dibentuk oleh FIFA tersebut. Meskipun hal ini sangat kami sesalkan karena ada
potensi hukuman yang lebih besar yang akan dijatuhkan oleh FIFA yang nantinya justru akan merugikan sepakbola Indonesia itu sendiri.

7. Bahwa APPI juga menyayangkan ternyata kasus tunggakan gaji pemain oleh klub-klub masih terjadi setiap tahun bahkan tahun ini ada peningkatan jumlah
klub yang menunggak gaji pemain di musim kompetisi 2019.

1 Comment

  1. Lebih baik semua pihak berdamai. Pemain juga mesti lihat2 kemampuan keuangan klub. Penonton yang sepi adalah indikasi klub tidak punya uang untuk bayar lebih, hanya pas-pasan. PSSI sudah bisa maklum klo ada yg kurang bayar.

Comments are closed.