3 Keanehan Seleksi Pemain Kalteng Putra: Eks Kapten Tuntut Gaji hingga Pakai Jersey Lawan

Ada banyak hal yang dirasa janggal atau keanehan-keanehan yang terjadi dalam proses seleksi pemain Kalteng Putra, jelang kompetisi Liga 2 2020 di Stadion Tuah Pahoe, Sabtu (22/02/20) kemarin.

Keanehan ini terlihat dari postingan di akun Instagram resmi @kalteng_putraid, yang baru saja aktif kembali pada hari pertama seleksi pemain, setelah sebelumnya sempat vakum sejak perayaan Natal dan tahun baru 2020 lalu.

Bahkan, kejanggalan yang diunggah dalam proses seleksi ini akhirnya menuai banyak komentar dari warganet, bahkan disuarakan langsung oleh eks kapten Kalteng Putra musim lalu melalui kolom komentar.

Apa saja keanehan seleksi pemain Kalteng Putra yang dimaksud? Berikut rangkuman redaksi berita olahraga INDOSPORT untuk Anda.

Eks Kapten Kalteng Putra Tuntut Gaji

Salah satu komentar paling menyita perhatian dari unggahan foto di akun Instagram Kalteng Putra adalah munculnya Dadang Apridianto, eks Kapten Kalteng Putra selama dua musim terakhir.

Tak pakai basa-basi, pemilik akun Instagram @dadang_apridianto11 itu langsung menagih gaji yang mestinya ia terima musim lalu. Tak sendiri, Dadang juga turut melakukan ‘tag’ kepada akun Instagram eks penggawa Kalteng Putra lainnya.

“Bayar dulu hak kita semua,” tukas Dadang Apridianto sembari menambahkan emoticon marah.

Tak Punya Jersey Latihan

Keanehan kedua yang nampak dari postingan tersebut adalah para pemain seleksi yang tidak mengenakan jersey latihan Kalteng Putra, melainkan justru mengenakan jersey dari mantan klubnya masing-masing.

Sejumlah pemain masih mengenakan jersey dari klub Liga 1 seperti Borneo FC dan PSIS Semarang, bahkan jersey Semen Padang FC yang notabene adalah rival Kalteng Putra di Liga 2 2020 mendatang.

Kalteng Putra boleh saja melakukan seleksi pemain, namun hingga kini klub berjuluk Laskar Isen Mulang itu bahkan belum memiliki struktur kepelatihan, khususnya pelatih utama.

Konon, berdasarkan klarifikasi dari CEO Agustiar Sabran, proses seleksi pemain ini ditentukan oleh kerja sama antara Asprop PSSI, Dispora Provinsi, tokoh adat, BEM Mahasiswa, Himma Mahasiswa, PWI Kalteng, pemerhati bola, manajer klub lokal, hingga perwakilan suporter.