Perjuangan Bonek agar Persebaya Tidak Jadi Tim Musafir

Liga 1 bergulir Maret nanti. Kurang dua bulan lagi. Namun, kandang Persebaya Surabaya belum jelas. Bonek mulai melakukan aksi agar Persebaya tidak jadi tim musafir.

’’INI baru langkah awal.’’ Begitu celetuk pentolan Bonek Andi Peci saat ditanya Jawa Pos soal aksi pasang spanduk. Ya, Bonek memang tengah punya gawe. Mereka mulai memasang spanduk dan pamflet di berbagai sudut Surabaya. Mereka menuntut Persebaya tetap berkandang di Surabaya.

Green Force –julukan Persebaya– memang kelimpungan. Mereka tidak mendapat izin berkandang di Surabaya. Alasannya, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) dan Gelora 10 November akan direnovasi. Itu dilakukan sebagai persiapan menyambut Piala Dunia U-20 tahun depan.

Andi senang saja Surabaya jadi calon tuan rumah. Tapi, dia tak ingin Piala Dunia membuat Persebaya terasing. ’’Sebenarnya anak-anak (Bonek) tidak mutlak menolak Piala Dunia. Asal Persebaya masih bisa main di Surabaya, ya jalan saja,’’ katanya. Apalagi, Bonek kadung punya ekspektasi tinggi. Setelah finis runner-up musim lalu, Bonek ingin Persebaya juara musim ini. ’’Itu (juara) bisa diwujudkan kalau Persebaya berkandang di Surabaya,’’ tegasnya.

Andi tak bisa membayangkan tim sebesar Persebaya harus menjadi tim musafir. ’’Kalau musim lalu kami terusir dan main di Balikpapan, itu wajar. Ini tidak ada sanksi dari PSSI, tapi kami malah terusir oleh pemkot sendiri,’’ sindirnya. Karena itu, aksi spanduk menjadi awal perjuangan Bonek agar Persebaya tetap bermain di Surabaya.

Lantas, kenapa harus spanduk? ’’Itu merupakan tradisi sejak kami membela Persebaya saat tidak diakui PSSI. Juga agar diketahui masyarakat luas,’’ terang pria dengan nama asli Andy Kristiantono tersebut.

Saat ini, spanduk protes itu mulai disebar. Bahkan, ada juga yang dipasang di dekat Balai Kota Surabaya. Bedanya, tidak berbentuk spanduk, tetapi seperti pamflet. Pamflet itu ditempel di beberapa sudut Jalan Wali Kota Mustajab. Tulisannya seperti ini: Piala Dunia Hanya Sementara. Mau Dibawa ke Mana Persebaya?

’’Nggak tahu siapa yang masang. Tadi (kemarin) pagi sudah ada,’’ tutur salah seorang juru parkir yang enggan disebut namanya.

Jumlah spanduk yang terpasang akan menjamur hari ini. Sebab, mayoritas Bonek mulai melakukan pemasangan spanduk tadi malam. ’’Titik pemasangan spanduk lihat teknisnya di lapangan,’’ kata Koordinator Green Nord Husin Ghozali kepada Jawa Pos. Pria yang akrab disapa Cak Cong itu memang gemas dengan keputusan Pemkot Surabaya. ’’Okelah pemkot punya gawe buat Piala Dunia. Tapi jangan menganaktirikan Persebaya,’’ tegasnya.

Menurut dia, Persebaya harus jadi prioritas. ’’Sebab, Persebaya ini representasi dari Surabaya. Ikonnya Surabaya,’’ ucap Cak Cong. Dia berharap ada koordinasi yang baik antara pemkot, manajemen Persebaya, dan Bonek. ’’Kalau misal renovasi dilakukan di tribun utara, kan tribun utara bisa dikosongkan. Bukan langsung tidak boleh dipakai gitu GBT-nya,’’ terangnya.

Hal itulah yang membuat Andi juga kesal. Menurut dia, pemkot seolah tidak mau melakukan penyelesaian dengan cara khas Timur: musyawarah. ’’Tidak akan selesai masalah kalau tidak ada audiensi. Selama ini kami (Persebaya dan Bonek) terbuka. Sekarang tinggal pemkot saja,’’ kata Andi. Dengan audiensi, dia yakin masalah akan tuntas. Apalagi, selain GBT, Surabaya masih punya Stadion G10N. ’’Kenapa nggak bisa dipakai?’’ imbuhnya.

Karena itu, aksi spanduk diharapkan segera direspons pemkot. Sebab, jika tidak, Andi menjamin Bonek akan melakukan aksi yang lebih besar. ’’Kami akan melakukan konsolidasi besar,’’ tambahnya. Lalu, apakah akan ada aksi turun ke jalan? ’’Itu (turun ke jalan) adalah upaya terakhir kami. Tapi, kami belum berpikir sejauh itu,’’ jelasnya.