Jalan Terjal Ini Harus Dilewati Bali United Menuju Liga Champions Asia

Juara Liga 1 2019, Bali United mengalahkan wakil Singapura, Tampines Rovers pada Selasa (14/1/2020) lalu.

Duel Tampines Rovers vs Bali United merupakan pertandingan ronde pertama babak kualifikasi Liga Champions Asia 2020.

Pertandingan yang dihelat di Stadion Jalan Besar, Singapura, itu berakhir dengan skor 5-3 untuk kemenangan Serdatu Tridatu.

Namun, Anda jangan langsung mengira Bali United sudah memastikan tempat untuk tampil di kasta kompetisi antarklub tertinggi di Asia tahun ini.

Pasalnya, masih ada dua tahap yang harus dilalui oleh Stefano Lilipaly dkk.

Pertama, menantang wakil Australia, Melbourne Victory pada ronde kedua, 21 Januari mendatang. Pertandingan akan dilangsungkan di Melbourne, Australia.

Kalau menang, Bali United harus menantang tim peringkat ketiga Liga Jepang musim 2019, Kashima Antlers pada ronde play-off, 28 Januari mendatang.

Jika menantang Kashima, laga ronde play-off juga akan dilangsungkan di kandang lawan.

Meski jalan yang akan ditempuh timnya sangat terjal, pemain Bali United, Melvin Platje tetap mencoba optimistis.

“Selanjutnya kami akan pergi ke Australia, dan Melbourne tim besar di Australia. Namun kami juga tim yang bagus, kami juara musim lalu. Kami akan berusaha memenangkan pertandingan, karena itu tujuan kami,” kata Platje kepada 1Play Sports.

“Kami harus mendapatkan recovery yang cukup. Saya harap semua tetap dalam keadaan bugar. Tapi kami harus lebih tajam di pertandingan berikutnya, dan pertahanan kami harus lebih baik,” kata dia.

Klub Indonesia Makin Sulit Dapat Tempat

Sejak tiga tahun terakhir, klub-klub Indonesia harus melakoni jalan terjal untuk sekedar bisa tampil di Liga Champions Asia.

Pada 2018 dan 2019, para wakil Indonesia hanya menang di ronde pertama saat berhadapan dengan wakil Singapura. Namun setelah itu, langsung kalah di ronde kedua.

Pada 2018, Bali United bisa mengalahkan Tampines Rovers di ronde pertama. Namun, harus mengakui keunggulan wakil Thailand, Chiangrai United pada ronde selanjutnya.

Kondisi yang sama juga dialami Persija Jakarta pada 2019. Seusai mengalahkan Home United (Singapura), Persija tak berdaya saat harus berhadapan dengan Newcastle Jets (Australia).

Penurunan level Liga Indonesia di tingkat Asia memang berimbas ke semakin sulitnya klub dalam negeri dapat jatah lolos langsung di Liga Champions Asia.

Setelah 2011, tercatat tak ada lagi klub Indonesia yang pernah berlaga di fase grup Liga Champions Asia. Arema tercatat menjadi klub Indonesia yang terakhir mewakili Indonesia di fase grup.

Pada tahun 2011, Arema bisa lolos langsung karena Indonesia masih mendapat satu slot di fase grup.

Pada 2012, Indonesia sudah kehilangan slot lolos langsung di fase grup. Pada tahun tersebut, Persipura Jayapura sempat tampil di babak play-off sebelum dikandaskan wakil Austria, Adelaide United.

Padahal, pada dekade sebelumnya, Indonesia sempat rutin mendapat dua slot lolos langsung di fase grup, seperti pada edisi 2004, 2005, 2006, dan 2007.

Pada 2009 hingga 2011, Indonesia masih mendapat satu slot langsung di fase grup walaupun jumlahnya menjadi hanya tinggal satu klub.

Padahal, keikutsertaan di Liga Champions Asia sangat berguna dalam mengasah mental para pemain timnas.

Setidaknya itulah yang diakui oleh pelatih timnas Malaysia, Tan Cheng Hoe. Pada tahun 2019 dan 2020, Liga Malaysia mendapat jatah satu slot lolos langsung di fase grup.

Jatah tersebut menjadi milik juara liga di negara tersebut, Johor Darul Ta’zim (JDT).

Pada 2019, JDT memang gagal lolos ke babak selanjutnya karena hanya menjadi juru kunci Grup E.

Harimau Selatan hanya menempati posisi juru kunci dengan raihan satu kali kemenangan dan sekali imbang.

Namun, satu kemenangan didapat dari Kashima Antlers, juara Liga Champions Asia musim sebelumnya.

Bagi Tan Cheng Hoe, pengalaman para pemain Malaysia bermain melawan klub-klub top Asia telah menguntungkan bagi timnas Malaysia, yang memang didominasi para pemain JDT.

“Sangat penting bagi para pemain untuk mendapatkan pengalaman seperti itu di kompetisi tingkat klub tertinggi di Asia. Bermain melawan beberapa tim hebat dengan pemain kelas dunia tentu saja telah meningkatkan dan memupuk pengalaman dan kepercayaan diri mereka ke tingkat yang lebih tinggi,” ucap Tan, dikutip dari laman AFC.

Karena itu, Tan berharap ke depannya akan semakin banyak klub Malaysia yang mampu lolos ke fase grup. Selain satu slot langsung di fase grup,
Malaysia juga mendapat satu slot, tapi di babak kualifikasi ronde kedua.

“Bermain melawan tim-tim top di Asia, bersaing dengan para pemain top yang memiliki intensitas dan kecepatan tinggi tentu sangat menguntungkan tim nasional,” kata Tan.

“Saya berharap akan ada lebih banyak klub lokal yang bersaing di Liga Champions AFC. Seperti yang Anda lihat, itu membawa kepercayaan diri para pemain ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar dia lagi.

“Mental dan fisik mereka sudah siap saat dipanggil tim nasional karena mereka tahu apa yang diharapkan. Jadi, saya akan mengatakan tim nasional telah mendapat banyak manfaat dari pengalaman itu,” ujar Tan menambahkan.

Ucapan Tan bisa jadi memang bukan sekedar omong kosong belaka. Pasalnya, timnas Malaysia bisa tampil perkasa dalam lima laga awal babak kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia Grup G.

Sampai sejauh ini, timnas Malaysia menempati peringkat kedua klasemen sementara dengan sembilan poin, tertinggal dua poin dari Vietnam.

Harimau Malaya berhasil mengungguli Thailand, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.

Sedangkan di sisi lain, timnas Indonesia terpuruk di dasar klasemen dengan belum meraih satu pun poin setelah selalu kalah dalam liga laga, dua di antaranya dari Malaysia.

Timnas Indonesia kalah 2-3 saat laga berlangsung di Jakarta, 5 September, dan kalah 0-2 saat laga kedua di Kuala Lumpur, 19 November.