Kompetisi Pramusim Sebelum Liga 1, Masih Relevankah?

Liga 1 2019 sebentar lagi usai. Pekan terakhir akan berlangsung pada 22 Desember.

Kasta tertinggi Liga Indonesia ini juga sudah memiliki juara baru, yakni Bali United.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga 1 pun sudah menetapkan waktu kick-off untuk musim kompetisi tahun 2020.

PT LIB memutuskan bahwa waktu kick-off Liga 1 2020 akan dimulai pada 1 Maret 2020.

Biasanya, sebelum Liga 1 bergulir, ada kompetisi pramusim.

Pada musim ini, kompetisi pramusimnya adalah Piala Presiden.

Piala Presiden, yang digelar dari 2 Maret hingga 12 April silam menggunakan format setengah kompetisi.

Arema FC menjadi juara Piala Presiden 2019 setelah menang dengan agregat 4-2 atas Persebaya Surabaya.

Adapun Liga 1 2019 bergulir sebulan setelah Piala Presiden, yakni pada 15 Mei 2019.

Menjelang bergulirnya Liga 1 2020, Direktur Teknik Bhayangkara FC, Yeyen Tumena, menilai bahwa kompetisi pramusim seperti Piala Presiden cukup mengganggu persiapan klub untuk memulai kompetisi resmi.

“Begini, kami saat memulai kompetisi itu ada namanya preseason. Preseason itu sering terganggu oleh turnamen pramusim, Piala Presiden, Piala Sudirman, dan lain-lain,” tutur Yeyen, Jumat (13/12/2019), dilansir dari Antara.

“Performa pemain pada putaran pertama itu pada awal-awal tidak sesuai yang kami harapkan,” katanya.

Turnamen pramusim seolah menjadi kompetisi yang menjadikan setiap klub wajib menampilkan permainan terbaik karena berhadiah besar.

Padahal, lanjut Yeyen, pramusim merupakan ajang untuk mencari dan mematangkan strategi tim.

Terlebih lagi, pemain-pemain yang baru bergabung bersama tim setelah libur harus memulihkan kondisi kebugaran secara bertahap.

Jika performa tim di kompetisi pramusim tidak sesuai ekspektasi, tak sedikit klub yang melakukan bongkar pasang baik dari sisi pelatih maupun pemain.

Dengan kondisi itu, klub akan mengawali kompetisi resmi dalam keadaan tidak siap.

Kondisi semacam itu yang kemudian dirasakan Bhayangkara FC pada awal musim ini.

Mereka terseok-seok karena mengikuti turnamen pramusim yang menguras tenaga.

Namun, pada putaran kedua, Bhayangkara FC bisa bangkit dan sempat mencatatkan delapan laga tanpa kekalahan.

“Namun, bukan tim kami saja yang pasti tidak dalam kondisi sudah siap untuk berkompetisi. Itu efeknya mengganggu persiapan tim, terutama pada awal-awal karena ada pemain cedera, pemain belum siap terpaksa main,” ucap Yeyen.