Favela dan Penjara yang Mengubah Jacksen Tiago

Saya jujur tidak pernah membayangkan bisa sukses di Indonesia. Segala yang dicapai di sini melampaui harapan saya.

Rasa hormat yang saya dapat di sini begitu luar biasa, ke manapun saya pergi. Jika diibaratkan saya sudah seperti bintang besar semacam Ronaldo Nazario di Brasil.

Saat masih jadi pemain saya berhasil mengantarkan Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia musim 1996/1997 dan jadi top skor. Saat beralih sebagai pelatih, Persebaya satu kali juara dan Persipura tiga kali menahbiskan diri sebagai tim terbaik di Indonesia.

Saya kali pertama menginjakkan kaki di Indonesia pada 1994 melalui jalan yang sebenarnya tidak disengaja. Awalnya saya bersama beberapa pesepakbola asal Brasil lain ditawari seorang agen untuk bermain di Malaysia.

Saat itu saya sudah 24 tahun dan sudah berkeluarga pula. Ketika tawaran itu datang, saya berpikir ini kesempatan yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hal ini penting karena saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Saya besar di favela alias pemukiman kumuh di Brasil.

Akhirnya saya membulatkan tekad berkarier di Malaysia, sebuah negeri yang sangat jauh dari kampung halaman saya. Uniknya ketika tiba di Singapura, agen asal Rumania yang mengajak saya bersama beberapa pesepakbola Brasil lainnya malah mengatakan: “Kalian nanti akan main di Indonesia, bukan Malaysia.”

Begitu mendengar pernyataan tersebut yang terlintas di pikiran saya hanya satu hal, saya harus bertahan di mana pun saya nanti bermain karena ini demi keluarga. Meskipun saya datang ke sebuah negara yang tidak pernah saya tahu sebelumnya.

Dari delapan pemain yang dibawa saat itu hanya ada lima pemain yang memutuskan mau bermain di Indonesia. Termasuk saya dan Carlos de Mello yang akhirnya sama-sama memperkuat Petrokimia Putra di Liga Indonesia I.

Motivasi saya berkarier sampai ke Indonesia tentu karena alasan ekonomi, apalagi di Brasil sedang krisis ekonomi. Mata uang Brasil nilainya terus turun sedangkan di Indonesia, saya dan semua pemain asing dapat bayaran dolar AS.

Harus diakui saat kali pertama datang ke Indonesia saya kaget. Tetapi saya berpikir tidak ada yang lebih berat dari kehidupan di favela. Saya hanya berujar dalam hati, “Mau seburuk apapun di Indonesia, tidak ada yang lebih berat daripada kehidupan di favela.”

Di Petrokimia saya masuk di putaran kedua dan dan bermain hingga akhir musim. Di musim berikutnya saya menerima pinangan PSM Makassar.

Sebelum berseragam Juku Eja, saya punya kenangan buruk karena pernah baku pukul dengan [pemain PSM] almarhum Ali Baba saat Petrokimia menghadapi PSM di Liga Indonesia I. Sampai sekarang saya merasa itu adalah sesuatu yang tidak pantas terjadi.

Dulu sepak bola Indonesia keras dan saya juga datang dari lingkungan keras. Tidak ada hal yang buat saya takut, apalagi saya baru datang dari Brasil. Saya sudah sering menghadapi hal-hal semacam ini di Brasil.

Begitu dapat tawaran kontrak dari PSM di awal musim Liga Indonesia II, saya berpikir mereka mau berikan kontrak untuk ‘bunuh’ saya di sana. Saya sempat was-was karena berpikir mereka mau balas dendam walau sampai kontrak saya habis di Juku Eja tidak terjadi sedikit pun peristiwa buruk.

Saat latihan pelatih M. Basri tidak pernah memainkan saya di tim yang berbeda dengan Ali Baba. Kami berdua, saya dan Ali Baba, selalu satu tim ketika latihan.

Kebersamaan saya dengan PSM hanya berlangsung satu musim karena saya memutuskan untuk pindah ke Persebaya. Kalau saya ibaratkan Persebaya itu seperti Flamengo di Brasil, pemain dan suporternya benar-benar gila bola.

Favela dan Penjara yang Mengubah Jacksen TiagoJacksen Tiago meraih satu gelar di Persebaya dan tiga gelar bersama Persipura sebagai pelatih (Dok.Persipura Jayapura)
Di Persebaya semua berjalan positif karena kami mengakhiri musim sebagai juara liga. Waktu itu kami tidak memikirkan mau melawan tim manapun di kompetisi karena kami sudah tahu pasti menang. Bukan karena faktor nonteknis, tetapi memang tim kami yang terbaik. Bisa dibilang kami adalah dream team.

Kami tidak pernah masuk ke lapangan dengan perasaan was-was sedikit pun. Di bawah asuhan almarhum Rusdy Bahalwan kami yakin bisa menang bukan hanya dengan skor 1-0 atau 2-0 tetapi menang besar.

Persebaya ketika itu bisa sukses karena berbagai hal di antaranya lingkungan dan komponen-komponen lain juga berpengaruh, sama seperti di Persipura waktu saya jadi pelatih. Manajemen bagus pemain bagus, dan saya juga bagus sehingga semua kemampuan bisa keluar dengan optimal.

Saya memberikan tiga gelar juara Indonesia Super League untuk Persipura musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013. Namun dari tiga gelar itu yang paling berkesan saat kami juara ISL tahun 2011.

Persipura sedang dalam masa transisi dari pemain senior ke junior. Kami melepas dua pemain senior, Eduard Ivakdalam dan Jack Komboy, demi membangun sebuah tim baru. Termasuk dengan mendatangkan Zah Rahan, Hamka Hamzah, hingga Beto Goncalves.

Boaz di tahun itu juga saya tugaskan sebagai kapten tim meski dia tipe pemain emosional. Akan tetapi keputusan itu terbukti membuat Boaz lebih dewasa, matang, dan berwibawa seperti sekarang.

Selain itu muncul juga pemain muda seperti Imanuel Wanggai. Para pemain ini yang diplot menggantikan pemain-pemain senior yang dilepas dan jadi fondasi masa depan tim Mutiara Hitam.

Bicara Persipura, saya juga merasa tim ini bisa meraih bukan hanya tiga gelar tetapi lebih dari itu. Tim Mutiara Hitam seharusnya bisa dapat empat atau lima gelar.

Di Indonesia sebuah tim dua kali juara kompetisi itu sejatinya bukan hal sulit. Cuma memang tidak diperbolehkan semua tim juara dua kali. Saya rasa kalian pun menyadarinya.

Kendati bisa meraih gelar juara saat sebagai pemain dan pelatih, saya sempat merasakan masa-masa sulit selama menekuni profesi sebagai pelatih. Saya mengalami kesulitan saat melatih Persitara Jakarta Utara dan begitu pula di Barito Putera.

Saya tipe orang yang mengutamakan kenyamanan dan di tempat seperti itu saya bisa bekerja maksimal. Selama hati saya nyaman, saya luar biasa hebat dalam bekerja. Namun jika tidak nyaman maka akan sulit buat saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Itulah yang sebenarnya terjadi.

Apapun itu saya tetap merasa beruntung. Kesulitan yang pernah saya alami di Persitara penting untuk saya bangkit lagi dan menghargai apa yang saya punya saat itu.

Sempat Dipenjara Saat Remaja

Saya berasal dari keluarga miskin dan tinggal di kawasan yang dikenal dengan sebutan favela alias pemukiman kumuh Manguinhos, Rio de Janeiro, Brasil. Di sana saya tinggal bertiga bersama adik perempuan dan ibu. Tak ada ayah karena beliau sudah meninggal saat saya baru menginjak 15 tahun.

Saat saya masih remaja, ibu bekerja sangat keras untuk membiayai hidup kami bertiga. Beliau pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Beruntung pekerjaan itu tidak selamanya dikerjakan karena beliau dapat pekerjaan di pemerintah kota Rio sebagai juru masak sebuah sekolah.

Siapapun yang tinggal di favela bisa dikatakan tidak punya harapan. Buat orang-orang yang tinggal di tempat seperti itu pilihannya hanya ada dua yaitu jadi penjahat atau pengedar obat-obatan terlarang

Jarang ada yang bisa bekerja sebagai guru atau sampai jadi dokter. Bahkan dari generasi saya yang tinggal di favela hanya tinggal empat orang yang masih hidup. Mereka yang meninggal mayoritas karena tindak kejahatan atau pengaruh narkoba.

Favela dan Penjara yang Mengubah Jacksen TiagoJacksen Tiago pernah masuk penjara saat remaja di Brasil. (Dok.Persipura Jayapura)
Semasa remaja sekitar 14 atau 15 tahun saya bahkan pernah masuk penjara karena merampok dan lingkungan yang membuat saya seperti itu. Saya dipenjara selama satu minggu karena merampok sebuah bus bersama teman-teman. Buat remaja yang tinggal di favela, memegang pistol bukan lagi hal aneh.

Saya harus menjalani persidangan karena ulah saya tersebut. Saat menuju ruang sidang, orang pertama yang saya lihat adalah ibu. Beliau menangis saat melihat saya dan ingatan itu masih terus membekas sampai sekarang.

Tangis beliau pula yang membuat hidup saya berubah total. Saya mulai fokus ke sepak bola dan meninggalkan kebiasaan buruk di favela. Saya beruntung sekali karena sepak bola menyelamatkan saya.

Saya coba mengikuti seleksi di Flamengo dan diterima. Di akademi salah satu klub terbesar Brasil itu wawasan saya bertambah luas. Sebuah dunia yang berbeda dan tidak ada hubungannya dengan dunia saya sebelumnya di favela.

Anak-anak di Flamengo memiliki tingkat intelektual yang lebih tinggi dan bisa mengubah arah hidup saya di masa depan. Jarak tempat tinggal saya dengan akademi Flamengo yang terbilang jauh tidak jadi masalah besar.

Di Flamengo saya satu angkatan dengan Leonardo [sekarang direktur olahraga Paris Saint-Germain] dan Aldair [mantan pemain AS Roma]. Kami berada dalam satu tim sejak usia dini walau akhirnya saya memulai karier profesional di Bonsucesso.

Namun jalan karier kami bertiga berbeda. Saya kemudian berkarier di Indonesia sejak 1994 dan sampai sekarang masih berada di Indonesia meski punya peran berbeda sebagai pelatih.

Favela dan Penjara yang Mengubah Jacksen TiagoJaksen Tiago menguasai banyak bahasa termasuk Indonesia. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)
Keputusan untuk berkarier di Indonesia membuat saya juga mempelajari bahasa baru. Apalagi saya hingga kini menetap di Surabaya dan pernah juga selama beberapa musim menukangi Persipura.

Saya sebenarnya bisa berbicara menggunakan bahasa Jawa karena dulu sering mendengar rekan-rekan setim di tim Bajul Ijo seperti Bejo Sugiantoro, Aji Santoso, hingga Anang Ma’ruf berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut.

Awalnya sempat bingung dengan obrolan mereka tetapi seiring waktu saya perlahan mulai bisa mengerti. Namun saat berada di rumah saya dan istri membiasakan anak-anak menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Jawa khususnya Jawa Timur terkadang agak kasar.

Pelafalan bahasa Jawa menurut saya juga cukup susah karena saya tidak bisa berbicara patah-patah seperti orang Jawa. Sedangkan bahasa Papua lebih mudah karena hampir mirip dengan bahasa Indonesia meski dengan logat yang berbeda.

Di luar bahasa Jawa, Papua, dan Indonesia, saya menguasai beberapa bahasa lain seperti Inggris, Spanyol, dan tentu saja Portugis.