Kisah Persija: Tahun Lalu Juara, Kini Terancam Degradasi ke Liga 2

Satu tahun lalu, Persija Jakarta meraih gelar juara kompetisi domestik yang ke-11 setelah mengalahkan Mitra Kukar pada 9 Desember 2018.

Persija Jakarta menang 2-1 sekaligus mengakhiri musim Liga 1 2018 sebagai kampiun dengan torehan 62 poin atau unggul satu angka dari PSM Makassar di tempat kedua.

Kini, Persija tengah dalam tren buruk setelah kalah 0-2 dari Perseru Badak Lampung pada pekan ke-31 Liga 1 2019.

Sebelumnya, Persija Jakarta juga menelan kekalahan dari Bhayangkara FC pada pekan ke-30 dengan skor 3-0.

Dua kekalahan beruntun ini membuat Persija belum aman dari ancaman degradasi meski saat ini masih berjarak lima posisi dari zona merah.

Dari 31 pertandingan, Persija cuma mampu mengemas 38 angka karena cuma menang sembilan kali, imbang 11 kali, dan kalah 11 kali.

Persija pun menjadi satu dari delapan tim yang bisa saja terdegradasi ke Liga 2 musim depan.

Dalam tiga pekan tersisa, masih ada maksimal 9 poin yang bisa diraup kontestan Liga 1 2019.

Artinya, koleksi poin Persija masih bisa disamai Perseru Badak Lampung, Semen Padang, hingga Kalteng Putra.

Sang juara bertahan masih terancam kena degradasi secara matematis.

Perseru Badak Lampung yang kini di peringkat ke-16 mengoleksi 33 angka yang artinya hanya berjarak lima poin dengan Persija.

“Saya pikir klub ini melakukan banyak kesalahan musim ini. Sebagai juara, mereka berganti pelatih,” kata pelatih Persija Edson Tavares setalah timnya kalah dari Bhayangkara.

“Lalu, musim ini Persija banyak melakukan pergantian pemain, hampir lima pemain asing, juga pemain lokal,” ujarnya menambahkan.

Pada pekan yang sama musim lalu, Persija tengah berjuang menjadi juara meski masih berada di posisi kedua di bawah PSM.

Macan Kemayoran bisa dengan sukses menyalip PSM karena meraih kemenangan pada tiga laga sisa kontra Sriwijaya FC, Bali United, dan Mitra Kukar.

Sementara itu, PSM harus rela tergusur menjadi runner-up karena bermain imbang 0-0 kontra tuan rumah Bhayangkara pada pekan ke-33.

Apapun itu, inilah keunikan dari kompetisi domestik Indonesia dan kebanyakan negara Asia lainnya.

Sangat jarang ada satu klub yang mendominasi jalannya liga dari musim ke musim.

Kalau mengambil contoh di Asia Tenggara, mungkin hanya Johor Darul Takzim yang menjadi pengecualian karena banyaknya uang yang mereka miliki.

Mereka mendominasi Liga Super Malaysia dengan menjadi juara lima kali secara beruntun mulai dari musim 2014.