Banding Ditolak, Persebaya Dapat Surat Membingungkan dari PSSI

Komite Banding (Komding) PSSI secara resmi telah menolak banding yang diajukan oleh manajemen Persebaya Surabaya. Hal itu terkait dengan hukuman yang diberikan oleh Komdis PSSI kepada klub berjulukan Bajul Ijo itu.

Komdis PSSI menjatuhi berupa denda Rp200 juta dan larangan bertanding tanpa penonton di laga kandang maupun tandang sampai akhir musim Shopee Liga 1 2019. Itu merupakan imbas dari kerusuhan suporter dalam duel Persebaya kontra PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya (29/10/2019).

Akan tetapi, keputusan yang dibuat Komding PSSI dalam surat bernomor 07/KEP/KB/LIGA1/XI/2019 cukup membingungkan. Surat itu ditandatangani oleh Ade Prima Syarif selaku Ketua Majelis Komite Banding PSSI pada 8 November.

Komding PSSI sudah jelas memang menolak permohonan banding Persebaya. Tapi, rupanya salah mengetik nama klub yang dimaksud.

Dalam surat itu, tertulis bahwa permohonan banding dilakukan oleh PSS Sleman yang telah mengirim surat bernomor 162/PT.PI-XI/2019. Itu merupakan nomor surat yang dikeluar oleh Persebaya, merujuk pada PT PI yang merupakan kode Persebaya Indonesia.

“Kami juga bingung membaca surat itu. Padahal, yang mengirim permohonan banding Persebaya, bukan PSS Sleman. Kami juga tidak bisa memastikan bagaimana status hukumannya,” kata Ram Surahman, sekretaris Persebaya Surabaya, kepada Bola.com.

Kesalahan Administrasi

Persebaya Surabaya masih mendalami masalah ini agar bisa menentukan sikap secepat mungkin.

“Kemungkinan ini kesalahan administrasi. Kami juga tidak tahu harus menyikapi ini bagaimana. Lebih baik Komding yang menjelaskan sendiri atau merevisinya karena dalam bahasa hukum kalau keliru akan berbeda penafsiran,” imbuh Ram.

Sisanya, surat tersebut menyebutkan rincian kejadian kerusuhan hingga putusan hukuman yang dibuat oleh Komdis PSSI terhadap Persebaya. Sampai sekarang, belum ada pembaharuan atau revisi surat ini.

Seperti diketahui, kerusuhan itu suporter itu lahir setelah Persebaya kalah 2-3 dari PSS Sleman. Insiden itu mengakibatkan banyak kerusahan pada properti dan fasilitas stadion.