Kompetisi Perdana Sukses, Malang Super League Tatap Musim Baru

Perhelatan Liga Super 1 Malang Football League (MFL) selama 14 pekan sukses digelar. Dua juara telah ditentukan lengkap dengan pemain terbaik, kiper terbaik, hingga top scorer yakni pemain dengan pencetak gol terbanyak.

Kesuksesan ini tentu tidak membuat para operator MFL berpuas diri. Berbagai liga baru telah disiapkan untuk mengguncang Malang Raya tahun depan. Ada liga pelajar, liga wanita dan liga super season ke 2.

“Sambil nunggu liga 2 jalan, nanti akan ada liga pelajar atau liga wanita yang telah kita rencanakan. Targetnya di awal 2020 untuk mengisi kekosongan menuju liga 2,” ungkap CEO MFL, Sefdella Afrianto.

Tak hanya memunculkan liga baru, tim MFL juga sudah memasang rencana untuk menguatkan teknologi pendukung, salah satunya yang menjadi kebanggaan yakni teknologi Video Assistant Referee (VAR).

“Akan lebih banyak lagi sisi-sisi atau sudut pengambilan gambar yang akan kita perbaiki ke depan dan itu memang nggak murah. Tapi disini akhirnya kita tahu, oh kekurangannya disini, oh kurang penambahan kamera,” katanya.

Begitu juga penguatan teknologi e ticketing juga memaksimalkan kerjasama dengan bank sampah dan aplikasi loakin untuk program pembelian tiket dengan sistem menukar sampah.

Pria yang akrab disapa Afdel ini mengaku, perjalanan liga perdana MFL ini mengalami banyak dinamika. Ia dan tim juga senang karena pertandingan sesuai dengan misi awal yang diusung yakni menciptakan pertandingan yang fun.

“Ini jadi tapak pijakan kita untuk menghadirkan sesuatu yang baru di Malang. Sesuatu yang bermanfaat, di mulai dari sepak bola dan Alhamdulillah selama 14 pekan dari Juli hingga November, 4 bulan itu sangat banyak hal-hal baru yang kami dapatkan,” ujarnya.

Tim operator MFL belajar banyak soal cara pengelolaan sebuah kompetisi juga dinamika sepakbola di Malang. Begitu pula dengan pengelolaan wasit hingga atmosfer pertandingan di Malang.

“Nah seperti itu menjadikan semangat baru bagi tim MFL untuk bisa belajar menjadi lebih baik,” tandasnya.

Ia juga mengakui bahwa masih banyak kekurangan di awal penyelenggaraan. Namun tentu ini tak menyurutkan semangat tim operator MFL untuk melangkah lebih jauh demi masa depan persepakbolaan di Malang raya.

“Kita nggak mungkin di pertama sempurna, kan? Pasti banyak kekurangan. Tapi yang pasti, tim kita bisa tetep semangat sampai selesai dan banyak sesuatu baru yang kami terima,” tegasnya.

Kendati demikian, Afdel mengaku sangat puas karena MFL bisa menjadi wadah bagi pembibitan bakat-bakat pemain sepak bola muda di Malang Raya. Termasuk juga para pemain eks-profesional.

“Ada beberapa nama pemain muda yang berpotensi di sini. Dan memang ada beberapa klub yang menjadikan MFL ini sebagai ajang untuk mereka. Contohnya mereka punya akademi, muaranya dimana, mereka milih disini. Karena liga lingkup Malang Raya memang belum ada. Dan di sini kami jadi wadah,” tuturnya.

Dari segi venue, Afdel dan tim juga akan memberikan yang terbaik di season selanjutnya. Ia memasang target agar pertandingan bisa dilakukan di lapangan tengah kota sehingga penyerapan penonton akan lebih maksimal.

Sementara untuk wasit, tim MFL selama ini terus berusaha memberikan yang terbaik. Salah satunya dengan menjalin komunikasi yang intens dengan komisi wasit ketika ada banding dari tim yang bermain.

“Dengan komisi wasit terus kita komunikasikan. Ada banding dari tim, ada masukan seperti ini kami sampaikan. Karena itu kan bukan wewenang kita. Kita memang sudah sepakat wasit lalai akan diistirahatkan dalam beberapa pekan,” tegasnya.

Afdel mengatakan, masalah wasit tidak bisa dilakukan secara sepihak. Jadi perlu komunikasi yang panjang untuk mencari solusi yang tepat.

“Bukan karena MFL, kemudian komdis yang menghukum wasit. Untuk wasit yang tahu ya dari komisi wasitnya. Karena adanya streaming dan VAR-nya kita kebantu jika ada kejadian. Kita juga ada konsultasi dengan perwakilan wasit dari Malang, dengan wasit nasional. Ini ada kejadian seperti ini gimana. Saya rasa itu juga jadi pembelajaran buat kita,” pungkasnya.