Dua Hal yang Diklaim Jadi Kejanggalan dalam Kongres Luar Biasa PSSI

Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI dinilai penuh kejanggalan di dalamnya setelah berbagai drama terjadi sebelum dan sesudah dimulai acara.

PSSI menggelar kongres luar biasa (KLB) di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Sejatinya ada 11 calon ketua umum yang ikut memperebutkan kursi Ketua Umum PSSI periode 2019-2023.

Namun, delapan diantaranya menarik diri dari pencalonan Ketua Umum PSSI lewat KLB.

Delapan calon tersebut adalah Fary Djemy Francis, Aven S Hinelo, Benny Erwin, Sarman, Vijaya Fitriyasa, Yesayas Oktavianus, Bernhard Limbong, La Nyalla Mattalitti.

Dengan mundurnya delapan calon tersebut, maka tiga calon tersisa yaitu Arif Putra Wicaksono, Rahim Soekasah, dan Mochamad Iriawan dalam persaingan untuk merebut kursi Ketua Umum PSSI.

Mochamad Iriawan akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 dengan meraih suara telak.

Salah satu calon ketum yang mundur, yakni Fary Djemy Francis, menyatakan adanya kejanggalan dalam kongres KLB PSSI.

Mantan ketua Komisi V DPR 2014-2019 ini menilai ada dua hal keanehan yang terjadi dalam KLB.

Pertama, ketiadaan debat dan penyampaian visi dan misi dari para caketum beberapa hari sebelumnya.

Fary menyebut pada awalnya debat dan penyampaian visi misi dari para caketum akan disiarkan di televisi nasional.

“PSSI berjanji untuk mempertemukan caketum, calon wakil ketua umum dan calon exco. Tapi apa yang terjadi? Batal dan pada hari ini ditetapkan kongres,” kata Fary di luar area KLB.

Fary melanjutkan bahwa PSSI hanya bisa menuntut kewajiban dari para calon ketua umum saja.

Akan tetapi, menurutnya PSSI tak bisa memenuhi kewajibannya sendiri.

Politisi Partai Gerindra ini kemudian mencontohkan dirinya yang sempat dinyatakan dicoret dari calon ketua umum.

Namun karena mau mengajukan banding dan mengurus persyaratan yang belum lengkap, Fary akhirnya mampu masuk sebagai calon ketua.

“Janji PSSI tidak dipenuhi. Janji kalau sudah tidak ditepati bagaimana nanti hasil kongres ini,” ucap Fary.

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Dijadwalkan Akan Bertemu Presiden FIFA, Bahas Apa?

“Saya sudah empat kali ikut kongres, selalu budayanya sama. Kami hanya jadi pengantin tanpa ada hak suara untuk mempresentasikan konsep kami,” katanya.

Kedua, Fary menilai masalah penetapan pemilik suara (voters) yang dinilai tidak jelas.

Lulusan Universitas Indonesia ini menuding banyak voters yang tidak memiliki legitimasi, sehingga hasil KLB ini sangat mudah untuk digugat secara hukum.

“Tidak ada kepastian terhadap voters. FIFA sudah mempertanyakan jika kongres tanggal 2 (November), votersnya mana? kompetisi belum rampung,” ujar Fary.

“Ada 6 tim degradasi dan satu tim suspend, masa masih punya hak di pemilihan. Saya khawatir siapa pun yang terpilih tidak legitimate,” ujarnya melanjutkan.

Sampai berita ini ditulis KLB telah menetapkan Cucu Soemantri dan Iwan Budianto telah resmi menjadi Wakil Ketua Umum PSSI mendampingi Mochamad Iriawan.