Riuh Stadion Surajaya Mengenang Sosok Choirul Huda

Laga yang menyajikan antara Persela Lamongan melawan PSIS Semarang, Jum’at sore (18/10/2019) tak seperti laga biasanya. Pada pertandingan tersebut, tersaji sebuah penghormatan spesial.

Penghormatan spesial tersebut adalah untuk almarhum Choirul Huda yang tak lain adalah legenda dan mantan kapten tim dari Persela Lamongan. Cak Huda, begitu panggilannya, meninggal dunia pada 15 Oktober 2017 silam.

Persembahan yang merupakan juga penghormatan kepadanya pun dilakukan oleh tm Persela Lamongan dan juga para suporter. Seisi Stadion Surajaya Lamongan menjadi penuh dan riuh dengan atribut dan juga koreografi bergambar mendiang Choirul Huda.

“Selamat Jalan #CH01, The Legend, Terima Kasih..” tulis salah satu banner yang terbentang di Stadion Surajaya kreasi suporter Persela.

Dalam sudut tribun lainnya dimana salah satu kelompok suporter Persela, Curva Boys 1967 berada. Mereka menyajikan koreografi bergambar almarhum Huda yang terbentang besar dan hampir menutupi tribun yang mereka tempati.

Curva Boys 1967 pun membentangkan koreografi tersebut sembari menyanyikan chant “Choirul Huda Ale, Choirul Huda Ale” yang terdengar riuh seisi stadion.

Salah satu sudut tribun lainnya juga menyajikan sebuah banner besar yang bertuliskan kenangan untuk Huda. “Selamat Jalan Sang Legenda C. Huda 1,” tulis mereka.

Sayang, pada laga tersebut, Laskar Joko Tingkir tumbang di kandang sendiri dengan skor 1-0 dari PSIS Semarang.

Choirul Huda merupakan one man one club atau seorang yang hanya membela satu tim seumur hidupnya. Ia telah berkostum Laskar Joko Tingkir sejak tahun 1999 hingga 2017 lalu.

Penjaga Gawang itu menutup usia di umur 38 tahun. Kala itu Huda meninggal setelah berbenturan dengan salah seorang pemain Persela, Ramon Rodrigues ketika melawan Semen Padang FC. Ia langsung tak sadarkan diri di tempat setelah berbenturan. Huda meninggal ketika dalam perjalanan ke rumah sakit.