Wolfgang Pikal: Jangan Pecat Simon McMenemy

Timnas Indonesia terus-menerus menelan kekalahan pada Kualifikasi Piala Dunia 2022, empat pertandingan yang mereka lalui hanya berujung kekalahan dengan jumlah kebobolan yang banyak.

Pada laga pertama Indonesia dibungkam Malaysia 3-2, lalu dilumat Thailand 3-0, dibantai Uni Emirat Arab lima gol tanpa balas, dan teraktual dipermalukan Vietnam 3-1 ketika bertanding di Bali.

Wolfgang Pikal selaku mantan asisten pelatih timnas saat ditukangi Alfred Riedl sadar bahwa rentetan hasil itu sama sekali tak bagus, tapi ia masih berharap Simon McMenemy dipertahankan.

“Saya lihat ada beberapa keputusan, ya mungkin memang saya punya pikiran yang berbeda dengan pelatih yang sekarang. Tapi secara umum, dari empat kali bermain, tidak ada hasil yang baik,” ujar dia.

“Tapi saya pikir jangan pecat pelatih dulu, kasih dia kesempatan lagi karena ganti dengan siapa pun untuk sekarang ini hasilnya akan sama. Kita harus fokus ke pemain muda,” sambung pria asal Austria itu.

Sosok yang kini melatih Persebaya Surabaya itu menilai sudah semestinya Indonesia memperbaiki sistem pembinaan dengan menyebut fokus pada pemain muda. Selain itu, memperbaiki kompetisi.

Sebagaimana diketahui, McMenemy kerap mengeluhkan jadwal kompetisi yang sangat padat sehingga membuat pemain lelah. Namun, Pikal pernah menghadapi situasi yang lebih para pada Piala AFF 2016.

“Memang pemainnya lelah, tapi 2016 lebih payah lagi. Karena kami hanya bisa pilih dua pemain dari tiap klub, harus dibatasi dan itu situasi yang sulit. Memang pelatih harus bisa atasi itu, seperti rotasi yang bagus,” tutur dia.

“Sekarang mainnya berbeda, kalau fisik sama saja. Dulu sulit, mau ambil pemain empat dari Arema misalnya, tapi kami cuma bisa ambil dua,” jelas Pikal.

Meski dalam kondisi terbatas karena kompetisi nonresmi pada 2016, Indonesia di bawah Riedl tetap mampu menembus final Piala AFF dan kalah dari Thailand. Pikal menyebut, keberuntungan turut menjadi faktor.

“Kuncinya menurut saya adalah disiplin pertandingan, main di dalam posisinya, respek pada strategi, dan yang paling penting kami sedikit beruntung pada 2016. Bohong jika orang bilang tidak ada fakor luck,” tutupnya berlalu.