22 Tahun Mengabdi, Sosok Mirip Didi Kempot Masih Setia Dampingi PSIS

Bagi pecinta PSIS Semarang pasti tidak asing dengan sosok Master Ceremony (MC) yang memandu setiap pertandingan kandang Laskar Mahesa Jenar. Dialah Tatut, sosok MC yang telah mengabdi dengan klub sepak bola asal Ibukota Jawa Tengah sejak 22 tahun lalu.

Tatut sejak tahun 1997 sudah menjadi MC di laga kandang PSIS dan terkenal dengan suaranya yang lantang setiap memberi pengumuman kepada seluruh penonton yang hadir langsung di stadion.

Ia pun sampai saat ini masih dipercaya oleh pihak panitia pelaksana untuk tetap menjadi MC walaupun usianya kini tak muda lagi.

“Saya itu menjadi MC PSIS sejak pemain asingnya Oliviera asal Brasil, itu sekitar tahun 1997. Pertamanya saya diajak salah satu teman yang berprofesi sebagai wartawan untuk menjadi MC di PSIS, awal-awal cukup grogi karena belum paham sepak bola,” ujar Tatut kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT.

Namun seiring berjalannya waktu ia mulai memahami tentang sepak bola dan mengenal beberapa pemain PSIS. Setelah itu ia semakin percaya diri dan lebih bersemangat setiap memandu penonton sebelum pertandingan dimulai.

Suka duka juga Tatut rasakan selama menjadi MC di klub yang identik dengan warna biru tersebut. “Suka duka itu pasti ada, saya kenal banyak orang mulai dari aparat, pemain, perangkat pertandingan, dan manajemen tim itu merupakan sebuah rasa senang tersendiri bagi saya,” bebernya.

“Kalau dukanya setiap PSIS kalah, kadang saya ikut jadi bahan amuk suporter dengan memaki-maki saya karena dianggap banyak omong, namun itulah sepak bola, kadang kami merasakan senang dan kadang merasakan kekalahan, selama ini jauh lebih banyak sukanya,” imbuh Tatut.

Menjadi MC sejak 22 tahun lalu tentunya membuat ia banyak mengenal pemain yang mengenakan seragam PSIS. Namun ada satu sosok pemain yang membuatnya hingga kini masih ia ingat karena pernah memberikan jersey.

“Kalau pemain yang paling saya ingat dan melekat di hati saya adalah De Porras, pasalnya ia pernah memberi jersey saya. Kalau tidak salah waktu itu tahun 2006 ketika Perang Bintang, kala itu kan diselenggarakannya di Semarang,” ujar Tatut sembari mengingat-ingat momen yang paling berkesan.

Pria yang tinggal di Ambarawa ini juga bercerita bahwa ia sempat terharu ketika berhasil mendamaikan gesekan antara penonton dan pihak keamanan melalui microphone yang ia pegang.

“Ketika itu ada gesekan antara penonton dan pihak keamanan di Jatidiri, saya waktu itu spontan untuk mengajak semua yang hadir di lapangan meredam emosi dengan membacakan bacaan Allahu Akbar dan Alhamdulillah berhasil,” papar Tatut.

Nama Tatut sebenarnya kurang familiar di kalangan pecinta PSIS, pria yang setiap harinya juga bekerja sebagai MC untuk mengiringi orkes musik ini justru lebih dikenal dengan sebutan Didi Kempot. Pasalnya bentuk rambutnya mirip dengan penyanyi asal Solo itu karena biasanya terurai dengan cukup panjang.

Namun ia tak mempermasalahkan panggilan itu dan justru senang karena dengan sebutan Didi Kempot ia lebih banyak dikenal orang terutama dari kalangan pecinta sepak bola Semarang.

“Saya tidak masalah dipanggil Didi Kempot, kebetulan saya juga kenal dekat dengan dia dan kakaknya karena sama-sama mengawali karir di dunia orkes musik, kalau ketemu dengan Didi Kempot tolong sampaikan salam dari saya,” ucap Tatut.

Awal mula dipanggil Didi Kempot pun dimulai ketika ia masih menjadi MC di Stadion Jatidiri, ia juga tak menampik bahwa stadion kebanggaan masyarakat Kota Semarang ini sangat melekat di hatinya dan memiliki hasrat untuk kembali menjadi MC di stadion yang kini tengah direnovasi tersebut.

“Kalau bicara soal Jatidiri, saya ini sudah seperti ngidam ingin menjadi MC PSIS di sana lagi. Sound sistemnya disana cukup menggelegar dan membuat saya sangat nyaman, semoga segera bisa dipakai dan PSIS kembali berkandang di sana,” harap Tatut.

Tatut juga mendoakan supaya PSIS tahun ini tetap bertahan di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Walaupun saat ini tengah terpuruk di papan bawah, pria berambut gondrong ini tetap yakin jika klub kebanggaan Panser Biru dan Snex tersebut bisa bangkit dan bahkan meraih juara Liga 1 pada beberapa tahun mendatang.