Top Skor Liga 1 Dikuasai Pemain Asing, Ini Komentar Pedas Striker Legenda Indonesia

Striker ganas Indonesia pada era 90-an, Peri Sandria akhirnya ikut angkat bicara soal lima pemain yang berhasil mencetak gol terbanyak di Liga 1 2019. Pasalnya dalam daftar tersebut adalah pemain yang bukan asal dan berdarah Indonesia, tidak ada pemain lokal sama sekali.

Hingga pekan ke-18, rekor mencetak gol terbanyak dipegang oleh Alex Dos Santos (Persela Lamongan) dengan 16 gol, Marko Simic (Persija Jakarta) dengan 13 gol, Ciro Alves (PS Tira Persikabo), Makan Konate (Arema FC) dengan 10 gol, dan yang terakhir adalah Rafael Silva (Barito Putera) dengan 9 gol.

Lantas, apa tanggapan dari legenda sepak bola Indonesia yang rekornya belum terpecahkan dalam mencetak 34 gol selama semusim di Liga Indonesia oleh pemain lokal selama 25 tahun lamanya ini? Berikut penuturan khusunya kepada INDOSPORT. 

“Sebenarnya keberadaan pemain naturalisasi dan pemain asing itu bagus ya untuk memicu persaingan pemain-pemain lokal, tetapi untuk pemain naturalisasi kualitasnya harus lebih dari pada pemain lokal dong dan jumlahnya jangan banyak-banyak,” ujar Peri kepada INDOSPORT, Senin (16/09/19).

“Namun, saya lihat kualitas pemain naturalisasi standar-standar saja, bisa dibilang kurang efektif perannya,” imbuhnya.

Menurutnya, kurangnya kesempatan untuk para pemain lokal menjadi pemicu utama dari banyaknya penyebab. Pertanyaan besar pun akhirnya mencuat di benak Peri Sandria.

“Jadi kan muncul pertanyaan, pada ke mana nih striker lokalnya? Masa top skor Liga 1 semuanya diisi oleh pemain asing?” 

“Kalau kami dulu strikernya pemain asing duet sama pemain lokal yang bekerja sebagai assist misalnya. Nah, kalau sekarang di klub Liga 1 sampai ada 4-5 lima pemain asing, semua posisi depan belakang tengah diisi oleh pemain asing,” bebernya panjang.

“Ini tamparan untuk sepak bola Indonesia yang sedang kekurangan stok di bagian striker, bisa dilihat sendiri di liganya justru pencetak gol terbanyaknya adalah pemain asing,” pungkasnya tegas.

Dengan gamblang, mantan pemain Mastrans Bandung Raya ini mengaku kecewa dengan liga sepak bola Indonesia. Pria berusia 49 tahun ini merasa bahwa kualitas liga yang tidak kunjung meningkat.

“Terus terang, saya sudah malas menonton liga. Ya habis tidak maju-maju, semakin lama justru semakin menurun.”

“Kita berharap zaman yang semakin modern ini, seharusnya sepak bola Indonesia bisa jadi tambah maju kan? Tidak usah bicara piala dunia minimal di Asia Tenggara sajalah dulu,” pungkas Peri Sandria.