Firman Utina: Kompetisi Sepakbola Usia Dini Bukan Sabung Ayam!

Legenda timnas Indonesia, Firman Utina, menilai kompetisi kelompok umur di Tanah Air masih banyak yang hanya berorientasi pada prestasi atau hasil akhir, dua hal yang menurutnya justru berpotensi membebani anak-anak.

Hal itu diungkapkan Firman kepada Goal Indonesia seusai menjadi mentor dalam acara bertajuk “The #BYL Footy Experience” yang diinisiasi oleh Batavia Youth League [BYL] di Soccer Station, Tugu, Jakarta Utara, Minggu (15/9).

“Ada tiga hal yang menjadi faktor kesuksesan sepakbola usia dini, yakni: orangtua, pelatih, dan pemain itu sendiri,” ucap Firman.

“Orangtua tidak boleh mengintervensi pelatih. Lalu, pelatih juga harus tahu format latihan anak-anak itu berbeda, lebih banyak fun -nya,” tutur pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara itu.

“Pelatih juga harus selalu ingin tahu tentang anak-anak, tentang karakter mereka. Tidak ada keharusan untuk menang. Ini poin penting yang harus dipahami orangtua dan pelatih,” tambahnya.

Sebelum pensiun pada akhir 2017, Firman memang mendirikan sekolah sepakbola [SSB] di kawasan Tangerang. SSB miliknya tersebut dinamakan FU 15 Football Academy. Nama itu merujuk pada inisial Firman dan nomor punggungnya saat masih aktif bermain di klub maupun timnas.

“Sekarang banyak liga usia dini sudah seperti liga orang dewasa. Ya, secara tidak langsung orangtua sudah melatih anaknya untuk berjudi sejak kecil. Apa bedanya dengan sabung ayam jika orangtua membebankan anak-anaknya keharusan untuk menang atau juara,” ujar Firman.

Pada akhir sesi wawancara, Firman juga berharap setiap pelatih dapat memahami dan menerapkan kurikulum filanesia yang dikembangkan PSSI guna menjaga kesinambungan menyoal visi bermain hingga ke jenjang profesional.