Pelatih Persiba Balikpapan Kritik Kebijakan Naturalisasi Di Indonesia

Pelatih Persiba Balikpapan, Satia Bagdja, mengkritik kebijakan PSSI terkait naturalisasi pemain dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, dari kebijakan itu hingga kini, timnas Indonesia belum memiliki prestasi apapun di level senior.

Eks pelatih timnas putri Indonesia itu mengatakan, kebijakan naturalisasi di Indonesia berbeda dengan kebijakan naturalisasi di Malaysia. Di Malaysia, pemain yang dinaturalisasi harus memiliki silsilah atau keturunan keluarga Malaysia.

Menurutnya, jika tak memiliki silsilah ataupun darah keturunan Malaysia, akan sulit mendapatkan kewarganegaraan. Apalagi berseragam timnas Malaysia.

“Jadi yang naturalisasi itu, kayak kita di Indonesia naturalisasi bisa langsung masuk timnas. Dia naturalisasinya itu harus warga keturunan,” ujarnya.

Satia mengetahui kebijakan naturalisasi di Negeri Jiran karena pernah menjadi asisten Rahmad Darmawan ketika menukangi klub asal Malaysia, T-Team, selama dua musim.

“Jadi silsilahnya dilihat, dari kakek buyutnya, baru masuk timnas. Di Indonesia beda, semua bisa masuk timnas yang naturalisasi,” tambahnya.

Program naturalisasi di Indonesia memang sudah dimulai sejak 2010 lalu, saat Cristian Gonzales disumpah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Ketika itu, ada juga Kim Jeffrey Kurniawan, namun Kim dari jalur keturunan lantaran punya darah Indonesia.

Program naturalisasi itu diatur melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 yakni minimal berada di Indonesia paling singkat 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut. Selain itu, harus berusia minimal 18 tahun atau sudah menikah.

Dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar serta mengakui Dasar Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Tidak pernah dijatuhi hukuman pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara satu tahun atau lebih.(gk-54)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*