Pasoepati Tetap Dukung Persis Menghadapi Persik meski Sempat Dilarang ke Kediri

Sekitar 600 suporter asal Solo nekat untuk datang ke Kediri demi mendukung perjuangan Persis Solo saat dijamu Persik Kediri di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (6/9/2019).

Padahal pascakerusuhan antara suporter PSIM dan Persikmania, Senin (2/9/2019) lalu, Polres Kediri Kota mengeluarkan surat larangan bagi fans asal Surakarta baik Pasoepati maupun Surakartans datang ke Kediri untuk menjaga suasana tetap kondusif.

Beruntung tak terjadi insiden apapun sebelum, saat, dan setelah pertandingan. Padahal Persis Solo dikalahkan Persik 0-1 pada laga tersebut.

Kapolresta Kediri Kota, AKBP Anthon Hariyadi, menyatakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi ulah anarkis lagi, pihaknya terpaksa melakukan pengamanan ekstra dengan tim gabungan Brimob dan Kodim setempat.

“Kami kerahkan pengamanan gabungan dari Polres, Brimob, dan Kodim. Total sekitar 600 anggota dilibatkan dalam pengamanan pertandingan sore ini. Kami harus lakukan antisipasi agar tak terjadi lagi kerusuhan seperti pertandingan Persik lawan PSIM kemarin,” ungkap Anthon Hariyadi.

Sebenarnya Anthon Hariyadi keberatan dengan kedatangan ratusan suporter tersebut. Namun, akhirnya dia dengan tegas meminta para suporter untuk patuh dan tidak membuat keonaran selama di Kediri.

“Kami minta mereka tak memakai atribut Persis Solo. Kami juga menggeledah tas bawaan mereka. Semua kendaraan suporter langsung kami konsentrasikan di halaman Polsek Kota. Sebelumnya, kami mengumpulkan mereka dan diberi pengarahan agar tidak membuat kerusuhan seperti pertandingan sebelumnya,” jelas Anthon Hariyadi.

Salut dengan Kerukunan Suporter

Setelah pertandingan usai, Anthon Hariyadi salut dengan kerukunan suporter Solo dengan Persikmania dalam laga antara Persik Kediri kontra Persis Solo itu. Meskipun kedua kelompok suporter ini menempati tribun sama dan bersebelahan seperti saat tragedi Persik-PSIM lalu.

“Seharusnya semua suporter sepak bola seperti ini. Kan sama-sama enak bisa menikmati pertandingan tanpa keributan. Toh kita juga sama-sama warganegara dan satu bangsa Indonesia,” tutur Anthon Hariyadi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*