Eks Pelatih Arema Merasa Timnas Indonesia Tidak Berkembang

Timnas Indonesia mengawali kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia dengan hasil pahit. Tim besutan Simon McMenemy itu kalah 2-3 dari Malaysia di kandang sendiri, Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Kamis (5/9/2019). Beragam reaksi muncul usai kekalahan itu, terutama karena laga melawan Malaysia menjadi gengsi bagi suporter kedua negara.

Mantan pelatih Arema, Gusnul Yakin, ikut mengamati permainan Timnas Indonesia. Pelatih kawakan ini merasa trenyuh dengan kondisi tim nasional saat ini. Banyak pemain naturalisasi dan ditangani pelatih asing, ternyata tak membuat Indonesia bisa lebih baik.

“Justru berbeda dengan ketika ditangani Luis Mila, ada karakter yang berbeda di tim nasional. Fighting spirit dan permainannya sangat terlihat,” kata pelatih 63 tahun tersebut.

Gusnul juga menyoroti banyaknya pemain naturalisasi di Timnas Indonesia saat ini, terlebih karena banyak pemain naturalisasi yang sudah melewati usia emas. Meski Beto Goncalves sukses mencetak dua gol, tenaga untuk bermain 90 menit sudah tidak mencukupi.

“Sementara Malaysia punya naturalisasi di usia emas. Seperti yang mencetak gol kemarin, Mohamadou Sumareh yang berusia 27 tahun,” tegasnya.

Sebenarnya Gusnul juga punya kenangan dikalahkan Malaysia. Saat itu, Indonesia jadi tuan rumah SEA Games 1979.

“Saya masih ingat waktu itu kami kalah di final. Saya jadi bagian pemain timnas kala itu. Tapi, setelah itu Timnas Indonesia jarang kalah di kandang sendiri. Harusnya justru lebih berkembang. Tapi, nyatanya masih jalan di tempat. Sementara Malaysia dan negara lain sudah berlari,” sambungnya.

Menyarankan Septian David Maulana

Gusnul berharap Timnas Indonesia ke depannya bisa lebih baik. Hanya saja dia menyayangkan ada satu pemain yang tidak dipanggil dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 2022, yaitu Setian David Maulana. Menurutnya, pemain yang kini membela PSIS Semarang itu layak untuk jadi pengatur irama permaian Timnas Indonesia.

“Indonesia punya materi lokal yang bagus. Ada Evan Dimas, Andik Vermansyah dan yang lain. Tapi, waktu dipegang Luis Mila, Septian David sering menjadi pilihan utama. Dia juga main bagus. Tapi, tidak tahu kenapa sekarang tidak dipanggil,” jelasnya.

Gusnul menambahkan jika pemain lokal Indonesia punya militansi lebih tinggi jika tampil melawan nagara dari ASEAN karena mereka punya punya gengsi sebagai pemain pribumi.

“Saya pernah mendengar Simon McMenemy bicara mental pemain asing (naturalisasi) lebih bagus. Tapi bagi saya tidak demikian. Pemain lokal tidak kalah. Justru pemain lokal ini punya militansi lebih,” tegasnya.