Keluh Kesah Bung Ferry terhadap Persija: Manajemen Tertutup, Tak Ada Target, Blunder Pelatih

Kekecewaan The Jakmania terhadap Persija Jakarta boleh dibilang memuncak pada Minggu (1/9/2019). Saat tim berjulukan Macan Kemayoran ini menjamu Perseru Badak Lampung FC pada laga pekan ke-17 Shopee Liga 1 2019 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, beragam spaduk kritikan muncul.

Spanduk kritikan mayoritas mendesak Chief Executive Officer (CEO) Persija Jakarta, Ferry Paulus, untuk mundur dari jabatannya. Di tribune utara dan selatan, terpasang banner besar bertuliskan ‘Ferry Paulose Out’, dan ‘FP = Manajemen Bobrok’.

Nahasnya, di pertandingan itu, Persija dipermalukan Badak Lampung 0-1. Kekecewaan The Jakmania terhadap manajemen Macan Kemayoran makin menjadi.

“Pertama, kami minta pertemuan antara manajemen dengan perwakilan suporter. Karena saya mau tahu target manajemen yang sekarang apa,” ujar Ketua Umum The Jakmania, Tauhid Indrasjarief, kepada wartawan di Stadion Patriot, Minggu (1/9/2019).

Bung Ferry, panggilan Tauhid, meminta manajemen untuk transparan mengenai target Persija Jakarta di musim ini. Ia ambil contoh saat Macan Kemayoran masih dikendalikan Gede Widiade pada periode 2017-2018. Target tahun pertama dan kedua tim ibu kota adalah finis di ranking 5-7 serta 3-5.

“Dulu Pak Gede Widiade punya target posisi kelima sampai tujuh itu, ramai dikritik. Kalau sekarang tak ada target apa-apa. Saya minta, itu kan bentuk motivasi. Bicara target, untuk mencapai target itu apa yang disiapkan,” kata Ferry.

Ferry juga menyayangkan perombakan terhadap dua pemain asing sebelum Liga 1 2019 bergulir. Dua pemain impor yang didatangkan pada era Gede, Vinicius Neguete dan Jakhongir Abdumuminov, digantikan Steven Paulle dan Rohit Chand.

“Tapi, faktanya kalau saya lihat dari awal. Pergantian pemain tak memuaskan. Neguete dan Jakhongir diganti, itu saya tak suka. Masuk Paulle, dia di PSM tak berprestasi kok. Masuknya Rohit, saya tetap berharap Jakhongir karena dia daya serang kami. Kalau Rohit memang mau diambil, cari jalan lain,” kata pria berusia 54 tahun itu.

Tentang Spanduk FP Out

Ferry memaklumi kegelisahan anggotanya yang lantas banyak membuat spanduk berisikan tuntutan untuk Ferry Paulus mundur dari Persija Jakarta. Apalagi, Macan Kemayoran pernah dalam situasi sulit di era Ferry Paulus sebelum Gede Widiade mengambil alih pada 2017.

“Mungkin, suara anak-anak seperti ini, ‘FP OUT’, silakan. Mungkin mereka masih trauma ketika Persija dipegang oleh Ferry Paulus sebelumnya,” tegasnya.

“Kalau buat saya ini kesalahan pelatih (Julio Banuelos). Tak ada perbaikan apa pun. Datang dua pemain asing (Xandao dan Joan Tomas), mungkin akan bagus. Tapi, tetap saya anggap, pelatih tak dapat mengoptimalkan pemain,” tlanjutnya.