Edukasi Suporter, Kalteng Putra: Dulu Nonton Pertandingan Gratis Kini Bayar Tiket

Kalteng Putra sebagai tim promosi Liga 1 2019 sedang berusaha menuju sebagai klub yang lebih profesional. Salah satu caranya, mengedukasi suporter agar membeli tiket.

Kalteng lolos ke Liga 1 sebagai runner-up Liga 2 musim lalu. Di awal musim Liga 1, laju tim besutan Gomes de Oliviera itu naik turun. Sempat terseok-seok, Kalteng kini menempati peringkat ke 12 papan klasemen Liga 1 2019 dengan mengantongi 14 poin.

Hampir separuh musim, Kalteng Putra belum merasakan keuntungan secara finansial. Sebab, Kalteng terpaksa menjadi tim musafir dengan menumpang Stadion Sultan Agung Bantul karena Stadion Tuah Pahoe, Palangkaraya sedang direnovasi.

Setelah menjalani laga-laga home rasa away, Kalteng akhirnya bisa pulang ke Palangkaraya dengan bermarkas di Stadion Tuah Pahoe. Pertama, menjamu Arema FC, kemudian menghadapi Semen Padang. Dua laga itu sama-sama pertandingan lanjutan Liga 1 2019.

Nah, dalam menjalani dua pertandingan itu, Kalteng Putra mencoba mengenakan biaya tiket pertandingan kepada suporter karena di musim-musim lalu suporter selalu digratiskan.

CEO Kalteng Putra, Agustiar Sabran, mengungkapkan animo suporter kepada Kalteng semakin membesar setelah tampil di Liga 1 2019. Tapi sosialisasi untuk wajib membeli tiket terus digaungkan. Di pertandingan home, Kalteng hanya membanderol tiket sebesar Rp 25 ribu.

“Kalau dulu kami gratiskan tidak ada biaya tiket, sekarang kami mencoba menjual tiket paling murah Rp 25 ribu. Mungkin kami satu-satunya klub yang jual tiket paling murah. Bahkan yang bayar hanya separuh suporter saja, karena memang kami masih dalam tahap adaptasi,” ujar Agustiar kepada detikSport, Selasa (20/8/2019).

Agustiar mengakui suporter Kalteng Putra masih beradaptasi untuk mendukung timnya menjadi klub profesional. Dia yakin perlahan Kalteng Mania bisa membantu tim kebanggaannya karena suporter merupakan elemen penting di klub.

“Terkadang dari 25 ribu itu saya kembalikan 10 ribu. Karena memang ini proses ya. Bisa dibilang kami nombok terus ya, karena memang kami sebenarnya tidak cari untung. Kami orang-orang yang mencintai sepakbola. Tapi kami sedang menuju menjadi klub yang profesional, lebih baik. Salah satunya mengedukasi suporter dengan membeli tiket, tapi pelan-pelan semua,” dia menambahkan.

Masing-masing klub sebelumnya mendapatkan biaya subsidi dari operator PT Liga Indonesia Baru sebesar Rp 5 miliar. Pemasukan klub juga berasal dari sponsor, dan tiket pertandingan.