Seberkas Asa Menghidupkan Kembali Arseto

klub legendaris di Indonesia, Arseto, cukup lama vakum, tepatnya sejak dibubarkan pada 1998. Namun, banyak kalangan yang ingin agar Arseto dihidupkan kembali.

Arseto merupakan satu di antara klub dengan sejarah cukup apik dalam pentas persepakbolaan Indonesia.

Didirikan pada 1978 di Jakarta oleh Sigid Harjoyudanto, putra Presiden Soeharto, Arseto lantas berpindah markas ke Solo hingga dibubarkan pasca kerusuhan Mei 1998.

Namun, alumni klub ini masih selalu berkumpul layaknya keluarga besar. Seperti yang dilakukan ketika puluhan mantan pemain Arseto dari lintas generasi berkumpul di Stadion Sriwedari, Kota Solo, Minggu (18/8/2019).

Mereka menggelar pertemuan tahunan dengan bermain bola. Arseto kali ini mengundang mantan pemain Persis Solo dan tim bentukan legenda Arseto, Ricky Yakob, dari Jakarta.

Alumnus Arseto memang tak lengkap seperti tahun-tahun sebelumnya. Edu Hombert, Eduard Tjong, Inyong Lolombulan, Ahmad Sukisno, hingga Agung Setyobudi hadir dalam reuni kali ini.

Sementara nama-nama beken eks Arseto semacam Ricky Yakob, Rochi Putiray, Miro Baldo Bento, Nasrul Kotto, Benny Van Brekelen, serta Sudirman berhalangan hadir di reuni edisi 2019.

Suripto Mangunkusumo, pemain Arseto musim 1979, sangat berharap tim dengan sejarah panjang ini hidup kembali. Pasalnya, nama Arseto masih membekas di hati masyarakat Kota Solo dan banyak yang menginginkan agar hidup kembali.

“Banyak yang rindu pada tim ini. Bukan hanya pemain, tapi juga suporternya. Walau tim ini sudah bubar 21 tahun lalu, alumni masih berkomunikasi dengan baik hingga hari ini. Jadi, tali persaudaraan kanu tak pernah terputus,” tutur Suripto kepada Bola.com.

Pernyataan serupa disampaikan Eduard Tjong. Pemain yang menghabiskan karier di Arseto ini sependapat jika mantan klubnya itu dihidupkan kembali, meski butuh perjuangan ekstra.

“Sebetulnya sudah ada wacana itu. Saya harap benar-benar terealisasi. Walau tentu tak mudah prosesnya. Kalau dibentuk dari nol lagi, saya ikut mendukung. Ini bagus untuk menampung potensi pemain lokal Solo dan sekitarnya,” ungkap mantan pelatih Timnas Indonesia U-19 itu.

“Mudah-mudahan kalau dapat izin dari pihak Jakarta, Arseto bisa kembali hidup mulai dari kasta Liga 3,” imbuh Eduard Tjong.

Gayung bersambut, penggiat sepak bola di Kota Solo, Rio Arya Surendra, bersiap menghidupkan kembali Arseto jika sudah mendapatkan restu dari pemilik klub. Rio Surendra adalah putra dari almarhum Brodjo Sujono, manajer terakhir klub Arseto, sebelum dibubarkan.

Menurut Rio, banyak langkah yang harus dilakukannya. Mulai mendapat izin dari Askot PSSI Surakarta hingga Asprov PSSI Jateng untuk mendapatkan lisensi pembentukan klub profesional yang didaftarkan ke PSSI pusat.

“Kami membangun fondasi dulu, dan yang paling utama tentu dapat restu dari Pak Sigid sebagai pemilik klub. Kalau dari sisi potensi pemain dan infrastruktur stadion, jelas Solo sudah siap. Perlu diingat, Stadion Manahan dulu sejarahnya dibangun adalah untuk Arseto,” ujarnya.