Ternyata Sekjen PSSI Ratu Tisha Pernah Diteriaki Bobotoh Saat Laga Persib Bandung, Begini Ceritanya

Ratu Tisha, namanya akrab setelah menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Wanita berusia 34 tahun itu mendapat perlakuan tak menyenangkan saat menghadiri leg kedua final Piala Indonesia 2018 antara PSM vs Persija atau PSM Makassar Vs Persija Jakarta.

Kedatangan Ratu Tisha, Selasa (6/8/2019), bukannya disambut penonton, ia justru diminta meninggalkan lokasi.

Sorakan penonton bergaung keras meminta Ratu Tisha untuk pulang.
Kejadian Ratu Tisha disoraki penonton bukan hal pertama.

Saat laga pembuka Piala Presiden 2019 di Stadon Si Jalak Harupat, Sabtu (2/3/2019), Ratu Tisha diteriaki bobotoh.

Ketika laga pertama Grup A antara Persib Bandung kontra Tira Persikabo akan dimulai, Ratu Tisha mendapat sambutan negatif.
Namanya terus dicemooh oleh bobotoh.

Sekitar tiga kali bobotoh berseru kepada Ratu Tisha.

Pertama, ketika penyiar pertandingan menyebutkan namanya.

Kemdudian, Ratu Tisha juga dicibir bobotoh saat Ketua Steering Committee Pila Presiden 2019, Maruarar Sirait memberikan sambutan.
Terakhir, Ratu Tisha kembali disoraki saat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memberikan pidato.

Suara Protes Penonton

Dilihat dari video yang diunggah channel Ianrush20, kedatangan Ratu Tisha bikin riuh.

Ia muncul untuk duduk di kursi penonton.

Namun, teriakan keras pun terdengar untuk menyuruh Ratu Tisha pulang.

“Pulang, pulang, pulang, pulang,” suara orang-orang yang menggema di stadion tersebut.

Kemudian, Ratu Tisha pun langsung bangkit dari tempat duduknya.
Ia angkat kaki meninggalkan kursi tersebut.

Saat Ratu Tisha beranjak pergi, sorakan orang-orang pun semakin keras.

Terekam lewat kamera, sejumlah orang yang duduk di sekitarnya bahkan ikut bersorak dan mengacungkan kedua tangannya keatas sambil bertepuk tangan.

Sorakan penonton di dalam stadion pun terdengar semakin keras dan kencang.

Dilansir Tribunjabar.id dari Tribun Timur, Ratu Tisha memang diteriaki suporter yang menonton laga final Piala Indonesia PSM vs Persija .

Saat tiba di Stadion Mattoanging, Ratu Tisha langsung menju area VIP Utama Mattoanging.

Ia duduk berjejer dengan sejumlah anggkota Komite Eksekutif PSSI.
Namun, kedatangan Ratu Tisha justru bikin heboh suporter.
Ia malah disoraki suporter di sana.

Kemudian, Ratu Tisha disebut pun pindah tempat duduk ke kursi kehormatan.

Namun, lagi-lagi terdengar teriakan dan sorakan suporter untuk mengusir Ratu Tisha.

Teriakan dan sorakan itu terdengar keras, seperti teriakan ‘selamat datang mafia sepak bola’.

Selain itu, Sekjen PSSI itu bahkan mendapatkan teriakan ‘pulang’ dari suporter.

Akhirnya, ia pun angkat kaki meningalkan tempat tersebut.

Walaupun begitu, Ratu Tisha masih bertahan di Stadion Mattoanging hingga pertandingan selesai.

Ratu Tisha disebut sempat menghabiskan waktu untuk makan dan minum di ruang VIP Utama.

Setelah pertandingan selesai, ia pun turut kembali turun untuk mengalungkan medali kepada pemain.

Kala itu, Ratu Tisha diminta mengalungkan medali pada runner up Persija Jakarta.

Lagi-lagi, ia diteriaki dan disoraki suporter.

Profil Ratu Tisha

Terpilihnya Ratu Tisha menjadi Sekjen PSSI pada 2017 bisa dibilang sebuah prestasi.

Bagaimana tidak, Ratu Tisha adalah wanita pertama yang pernah duduk di Sekjen PSSI setelah 89 tahun berdiri.

Terpincutnya Ratu Tisha kepada dunia sepak bola tidak terlepas dari sosok ayahnya.
Melansir dari Kompas.com, Ratu Tisha mengatakan dirinya mnejadi penggemar sepak bola setelah diajak sang ayah menonton ke stadion.
Faktor yang membuat Ratu Tisha tak berpaling pada sepak bola adalah kemampuan sepak bola yang menghadirkan keajaiban.

“Saya seolah mendapatkan magical feeling dari sepak bola ini,” ucap Ratu Tisha, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya, sepak bola mampu menggerakkan begitu banyak orang di stadion.

“Sepak bola pun membuat emosi orang bergetar dan akhirnya menginspirasi. Semua itu tak lepas dari peran besar ayah saya,” katanya.

Sang ayah mendukung penuh keputusan Ratu Tisha bergelut di dunia sepak bola.

Pesan ayah masih diingat Ratu Tisha.

“Ayah saya berkata, ‘Nak, jersey kita warnanya merah, jadi kamu harus berani. Kata-kata dari ayah saya itu pegang teguh dalam menjalankan tugas ini dan saya tularkan ke rekan di kesekjenan,’ ujar wanita berusia 34 tahun itu.

Ketertarikan Ratu Tisha terhadap sepak bola sudah terlihat saat ia masih tercatat sebagai siswa SMA 8 Jakarta.

Ia menjadi manajer tim sepak bola di sekolahnya.

Tak hanya sekadar suka, Ratu Tisha juga turut membangun tim sepak bola di sekolah yang identik lebih fokus pada prestasi akademik.

Kemudian, Ratu Tisha juga mengikuti pertukaran antarbudaya AFS di Leipzig, Jerman.

Lulus dari SMA, Ratu Tisha melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung ( ITB) dan mengambil jurusan Matematika.

Di ITB, kecintaan Ratu Tisha terhadap sepak bola tidak surut.

Ia menjadi manajer klub Persatuan Sepak Bola (PS ITB).
Seperti yang diketahui, PS ITB berada langsung di bawah Liga Mahasiswa Jawa Barat dan Persib.

Selain menjadi manajer, Ratu Tisha turut dalam mengurusi persiapan pertandingan, menyusun data klub, jadwal latihan, dan kalender pertandingan hingga PS ITB.

Kerja keras Ratu Tisha terbayar setelah PS ITB promosi ke Divisi Utama pada masanya.

Setelah lulus kuliah pada 2008, Ratu Tisha mendapat tawaran pekerjaan dari perusahaan perminyakan Schlumberger.
Ia hanya bekerja empat tahun di perusahaan tersebut.
Ratu Tisha memilih keluar dan fokus membangun LabBola.
Ia berperan sebagai CoFounder di LabBola.

LabBola adalah perusahaan penyediaan data statistik performa tim yang nantinya data tersebut akan digunakan untuk membantu tim dalam mengajukan proposal ke sponsor.

Ratu Tisha merupakan lulusan FIFA Master tahun 2013 silam.

Ia masuk di antara 28 peserta yang lolos dari 6.400 pendaftar.

Di FIFA Master, Ratu Tisha berhasil mendapat gelar Master of Art dan meraih peringkat tujuh.

Program FIFA Master diselenggarakan oleh International Centre for Sports Studies yang menggandeng beberapa universitas dan mempelajari tentang Sport Humanity, Manajemen Olahraga, dan Hukum Olahraga.

Pada 2016, Ratu Tisha pernah menjadi operator Turnamem Torabika Soccer Championship (TSC) yang menempatkannya di posisi Direktur Kompetisi dan Regulasi.

Atas peran inilah, Ratu Tisha berhasil mendapat kepercayaan dan hormat dari anggota asosiasi provinsi dan pengurusan klub Tanah Air.
Ratu Tisha diketahui pandai dalam bahasa asing.

Tak tanggung-tanggung, ia ternyata menguasai lima bahasa asing sekaligus, di antaranya Baha Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, dan Italia.