PSSI Tak Berikan Laporan, Komdis Mungkin Tak Menyidangkan Insiden Teror untuk Persija di Makassar

PSSI dalam laman resminya mengumumkan hasil Sidang Komisi Disiplin (Komdis) per Rabu (31/7/2019). Komdis merilis 17 hukuman, namun nihil putusan untuk leg kedua final Piala Indonesia antara PSM Makassar kontra Persija Jakarta.

PSSI menunda pertandingan tersebut setelah mempertimbangkan situasi keamanan. Sehari sebelum kedua tim bertanding di Stadion Andi Mattalatta, Mattoangin, Minggu (28/7/2019), Persija Jakarta diteror.

Bus tim berjulukan Macan Kemayoran itu ditimpuki sehingga mengakibatkan kaca bus pecah. Beberapa orang, termasuk dua pemain Macan Kemayoran, Marko Simic dan Ryuji Utomo luka-luka.

Namun, kejadian tersebut tidak dibahas pada rapat Komdis pada 31 Juli lalu. Padahal, Komdis merapatkan berbagai pelanggaran yang terjadi di Liga 1 dan 2 pada kurun waktu 20-29 Juli 2019.

Wakil Ketua Komdis, Umar Husin, mengatakan belum menerima laporan dari PSSI sehingga tidak berwenang menyidangkan dugaan pelanggaran yang terjadi pada leg kedua final Piala Indonesia.

“Belum terima. Kami belum terima. Kalau kami tidak terima apa-apa, apa yang mau disidang. Ingat, Komdis itu pasif posisinya. Tidak mencari-cari masalah,” ujar Umar Husin ketika dihubungi Bola.com, Jumat (2/8/2018).

Mungkin Tak Disidangkan

Tidak sampai 1 x 24 jam setelah menunda pertandingan, PSSI mengumumkan jadwal baru leg kedua final Piala Indonesia. PSM akan menjamu Persija pada 6 Agustus 2019, di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin.

Umar Husin menambahkan alur sidang Komdis bersumber dari PSSI yang melaporkan adanya dugaan pelanggaran, baru pihaknya membahasnya dalam sidang. Umar Husin mengatakan terbuka kemungkinan dugaan pelanggaran pada pertandingan yang tertunda itu tidak disidang oleh Komdis.

“Tidak tahu. Menerima apa dulu. Saya belum terima. Pasti salah nanti. Jadi surat itu masuk ke federasi, federasi menilai apakah ini masuk ranah Komdis atau tidak. Alurnya begitu,” imbuh Umar Husin.

“Bisa jadi Komdis tidak akan menerima kalau dinilai tidak ada masalah. Yang menentukan masuk ke Komdis atau tidak kan bukan maunya kami,” tuturnya.

Klarifikasi Persija

CEO Persija Jakarta, Ferry Paulus, memberikan klarifikasi, kronologis serta membuka kelalaian panitia penyelenggara (PSM) selama Ismed Sofyan dan kawan-kawan berada di Makassar pada konferensi pers di Kantor Persija, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (30/7/2019).

“Saya perlu klarifikasi kaitannya tentang apa yang terjadi dan kronologis batalnya leg kedua final Piala Indonesia pada 28 Juli 2019. Pertama, Persija menganggap satu poin penting batalnya pertandingan tersebut karena ketidakcakapan panitia penyelenggara (PSM) dalam menjamu kami,” imbuh Ferry.

“Banyak hal-hal yang tidak baik dalam ranah-ranah fair play, salah satumya tekanan secara visual melalui spanduk, yang kedua, tekanan melalui petasan pada Sabtu (27/7/2019) pukul 00.00 WITA dan pukul 01.30 WITA. Intinya mem-presssure kami di hotel.”

“Setelah itu, pemain Persija tidak ambil pusing, pemain masih bersantai dan bisa istirahat dengan baik. Namun saat latihan resmi, ini yang menyebabkan kekhawatiran dan ketidakanyamanan tim yang akhirnya menyebabkan kami tidak ingin bertanding pada 28 Juli 2019,” kata Ferry.

Ferry juga membantah kabar yang menyebut timnya tidak meminta pengawalan dari petugas keamanan sebelum kejadian pelemparan ke bus terjadi.

“Bahwa ketidakcapakan panpel sudah diklarifikasi. Waktu kami sama-sama pada 28 Juli 2019 untuk mencarikan titik temu yang terbaik, Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) menyampaikan panpel tidak minta keamanan dipertebal khusus latihan resmi,” imbuh Ferry.

“Ini yang saya maksud ketidakcapakan panpel, bahwa panpel melihat animo masyarakat Sulsel, seharusnya panpel mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan melakukan koordinasi dengan kepolisian. Sehingga ketika kami OT semua berjalan baik,” tuturnya.

Ferry turut menyayangkan kebijakan panpel PSM yang menjual tiket pertandingan secara langsung di stadion pada H-1 pertandingan.

“Lalu kenapa saat OT Persija terjadi penumpukan? Bahwa dapat informasi, di hari yang sama, panpel menambah penjualan tiket secara langsung di sekitar stadion. Tiket yang dijual jelas-jelas menyalahi aturan karena seat/portable yang disiapkan persis di belakang di bench kedua pihak,” kata Ferry.

“Di regulasi jelas ada, tim tamu yang berada di bench pemain harus nyaman. Kenyamanan didapat dari jarak dengan penonton. Pada 27 Juli atau sehari sebelum laga, dijual 800 tiket kalau tidak salah. Animo masyarakat Makassar yang besar, jumlah 800 tiket itu habis dalam waktu singkat. Sehingga banyak masyarakat yang tidak dapat tiket.”

“Di Jakarta juga sering (animo besar), hanya harusnya panpel buat antisipasi lengkap dan cerdas sehingga penumpukan massa bisa diantisipasi oknum-oknum yang anarkistis sampai terjadi pelemparan-pelemparan,” jelas Ferry.