Flare dan Nyanyian Melecehkan Buat Madura United Terancam Sanksi Berat

Madura United kini bersiap menghadapi ancaman sanksi berat dari Komisi Disiplin PSSI, buntut ulah suporter mereka sepanjang laga menjamu Arema FC di Stadion Gelora Madura Pamelingan, Sabtu 20 Juli.

Dalam laga itu, tercatat tiga kali Wawan Rapiko menghentikan laga. Insiden pertama terjadi di menit 25, saat terdengar nyanyian bernada rasis atau melecehkan yang ditujukan kepada Arema FC.

Wasit asal Riau itu langsung menundanya hingga situasi mereda dalam 30 detik berikutnya. Nyanyian itu lebih parah dan nyaring berbunyi di menit 54, hingga kembali berlanjut setelah menunggu 2 menit lamanya.

“Dimohon untuk tidak menyanyikan lagu-lagu rasis atau misuh (kata-kata kasar khas Bahasa Jawa), karena bisa menyebabkan pertandingan terhenti,” bunyi Junaidi melalui pengeras suara.

“Ini sudah kedua kalinya. Jika sampai tiga kali, maka pertandingan tidak dilanjutkan dan itu lah aturannya,” sambung Anouncer di Stadion Gelora Madura Pamelingan itu.

Himbauan keras itu pun direspon positif dengan tidak ada lagi nyanyian serupa. Meski pada sepuluh menit akhir, laga kembali dihentikan akibat adanya flare di tribun selatan. 

Bagaimana pun juga, sanksi berat atas pelanggaran regulasi itu bakal berbuah sanksi. Merujuk pada Kode Disiplin PSSI pasal 70, sanksi bagi Madura United bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.