Setelah IPO, Bali United Diminta Bangun Infrastruktur Latihan

Bali United menjadi klub Indonesia pertama yang memutuskan untuk go public. Lewat PT Bintang Bali Sejahtera, tim yang dimiliki Pieter Tanuri itu resmi melantai di Bursa Efek sejak Senin (17/6/2019) lewat skema Initial Public Offering (IPO) dengan kode emiten : BOLA.

Langkah yang diambil manajemen Bali United itu tentu patut diapresiasi. Dengan melakukan IPO, pengelolaan keuangan tim akan menjadi lebih transparan.

Bahkan, dari skema IPO ini, Bali United diprediksi bisa mendapat dana hingga Rp350 miliar. Oleh karena itu, pelatih Bali United Stefano Cugurra Teco, berharap manajemen lebih memerhatikan fasilitas untuk tim, salah satunya adalah tempat latihan.

“Kami akan berdiskusi dengan manajemen. Yang terpenting fasilitas tim harus diperbaiki. Kalau tempat latihannya memadai, para pemain akan lebih bersemangat saat latihan, dan saat pertandingan mereka pasti bermain lebih bagus. Saya mendengar manajemen sudah memperbaiki Stadion Dipta. Itu bagus supaya lebih banyak suporter yang datang,” kata Teco.

“Idealnya, tempat latihan itu berbeda dengan stadion untuk bertanding. Tahun depan, harus ada banyak tempat latihan supaya tim junior dan senior tidak digabung saat latihan. Manajemen harus sudah mulai memikirkan (perbaikan) fasilitas,” ujar Teco menambahkan.

Selama ini, Teco mengaku tim asuhannya harus berpindah-pindah tempat latihan. Menurutnya, akan lebih baik jika Bali United memiliki satu tempat latihan tetap yang didukung oleh fasilitas yang memadai

“Bali United punya tiga tempat untuk berlatih. Lapangan Trisakti, Lapangan Samudra, dan Lapangan Banteng. Hanya di stadion (Dipta) yang tidak dipakai untuk latihan,” ujar eks pelatih Persija Jakarta tersebut.