Bisa Bunuh Pemainnya, Bos PSIS Semarang Pertanyakan Hukuman Winger Persebaya

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi larangan dua kali bertanding dan denda Rp10 juta kepada winger Persebaya Surabaya, Elisa Basna.

Sanksi itu diterima pemain sepak bola asal Papua tersebut karena menginjak perut full back PSIS Semarang, Frediyan Wahyu Sugiantoro dalam laga di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), 30 Mei  2019 lalu.

Namun, hukuman Komdis PSSI itu dikecam CEO PSIS, Yoyok Sukawi. Dengan potensi yang cukup membahayakan keselamatan pemainnya bahkan hingga kematian, sanksi yang didapat adik kandung Rudolf Yanto Basna tersebut terlalu ringan.

“Itu terlalu ringan (hukumannya). Wong melihat pelanggarannya bisa membunuh kok hanya dihukum seperti itu,” kecam Yoyok kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT, Minggu (16/06/19).

Apa yang dikatakan bos tim Laskar Mahesa Jenar itu cukup wajar. Kasus yang mirip dengan pelanggaran Basna pernah terjadi di pertandingan lain yang menyebabkan kematian dan menjadi cacatan hitam sepak bola Indonesia.

Kasus itu adalah tendangan Denny Tarkas yang menyebabkan gelandang PKT Bontang, Jumadi Abdi meninggal dunia, 2009 silam. Lalu kiper PSAP Sigli, Agus Rohman melayangkan kakinya ke perut striker Persiraja, Akli Fairuz sehingga sang penyerang meregang nyawa.

Meski mengecam, Yoyok mengaku tak bisa berbuat banyak termasuk melakukan banding. Mengingat yang menerima hukuman adalah Persebaya Surabaya.

“Harapan saya ke depan Komdis PSSI bisa lebih tegas dalam memberikan sanksi. Ini soal keselamatan pemain yang perlu mendapat perlindungan maksimal,” tegasnya.

Sekadar informasi, hingga berita ini diturunkan, pihak Persebaya Surabaya sendiri belum diketahui apakah akan mengajukan banding atau tidak, terkait hukuman Elisa Basna ke Komisi Banding PSSI.