Sulut United Menjadi Solusi Alternatif Potensi Sulawesi

Sulut United akan meramaikan persepakbolaan Sulawesi. Tim yang akan bermarkas di Manado ini menjadi solusi alternatif bagi bakat-bakat Sulawesi yang selama ini kerap merantau karena minimnya klub profesional di daerahnya.

PSM Makassar menjadi icon Sulawesi. Klub berjuluk Juku Eja ini bahkan menjadi satu-satunya klub yang ikut dalam kompetisi profesional Tanah Air musim 2018. Sementara klub Sulawesi lain hanya ikut serta dalam kompetisi Liga 3.

Pada Liga 3 2018, ada tiga wakil Sulawesi yang melaju ke babak 32 besar. Mulai Kreasindo XIII Merdeka FC Gorontalo, Celebest FC Palu dan OT37 Mamuju.

Ketiga tim ini pun pada akhirnya gagal mendapatkan tiket promosi ke Liga 2 2019. Praktis PSM Makassar menjadi kandidat tunggal wakil Sulawesi pada kompetisi profesional musim 2019.

Namun ditengah kepastian tersebut, muncul klub baru bernama Sulut United. Klub yang akan bermarkas di Manado ini sebelumnya bernama Bogor FC. Klub ini dibesut pelatih nasional berlisensi A AFC, Herry Kiswanto.

Keberadaan Sulut United per Mei 2019 memang belum disahkan PSSI. Dalam managers meeting Liga 2 2019 di Grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019) lalu, namanya masih terdaftar sebagai Bogor FC.

Namun meski begitu, Sulut United sudah mempersiapkan diri menatap kompetisi Liga 2. Mereka menggelar seleksi di Jakarta, dengan Herry Kiswanto sebagai tim penyeleksi dibantu putra daerah Sulawesi Utara, Leo Soputan.

Kepada KAMPIUN.ID, Herry Kiswanto berbagi pengalamannya memantau persepakbolaan Sulawesi. Menurutnya, Sulawesi merupakan salah satu produsen pemain-pemain berkualitas Tanah Air. Ada banyak pemain asal Sulawesi yang kini membela tim-tim Liga 1 maupun Liga 2.

Sepanjang berkarir sebagai pelatih, pria yang akrab disapa Herkis ini juga pernah membesut tim Sulawesi Utara, tepatnya tim Persmin Minahasa pada Liga Indonesia 2007. Kala itu Persmin mengakhiri kompetisi dengan menduduki peringkat tujuh klasemen akhir wilayah timur.

Sayangnya musim itu menjadi musim terakhir Persmin di kasta tertinggi. Meski berhak atas tiket Liga Super Indonesia 2018, Persmin gagal lolos verifikasi karena masalah pendanaan. Pun juga dengan Persma Manado yang tak bergeliat lagi. Praktis, Sulut United menjadi motor kebangkitan sepakbola Sulawesi Utara.

“Sulawesi itu besar, tentu potensi dan bakat pesepakbola dari sana juga besar. Selalu lahir pemain Timnas yang berasal dari Sulawesi. Sayangnya klub yang ikut kompetisi profesional hanya satu saja, akhirnya putra daerah banyak yang membela klub luar Sulawesi,” kata Herkis.

“Dengan adanya Sulut United ini persepakbolaan Sulawesi akan lebih bergairah, lebih termotivasi, akan lebih banyak lagi pemain daerah sana yang muncul. Saya siap mendukung program Sulawesi Utara untuk sepak bola yang lebih berkembang,” imbuhnya.

Ada lima slot pemain yang disediakan khusus untuk putra Sulawesi Utara. Para pemain ini akan dipantau dalam seleksi putra daerah usai lebaran nanti. Perpaduan putra daerah dan pemain nasional diharapkan membuat Sulut United menjadi tim tangguh.

Leo Soputan menjadi putra daerah pertama yang direkrut. Eks Persita Tangerang ini menjabat sebagai asisten teknik Sulut United.

“Ini klub daerahnya, jadi kita harus respek dengan pemain-pemain Sulawesi Utara. Nanti akan kita lihat potensi-potensi terbaik ini di Manado,” tuturnya.

Sulut United saat ini sudah mematenkan empat pemain yang dipinjam dari Bali United. Mulai Gusti Sandria, Ahmad Maulana, Martinus Novianto dan Nyoman Adi Parwa. Tim pelatih juga terus melengkapi lini per lini dengan menggelar seleksi di Jakarta, sejak Selasa (28/5/2019) lalu.

Pada kompetisi Liga 2 2019, Sulut United tergabung di grup timur. Mereka bersaing dengan PSIM Jogja, Persis Solo, Persatu Tuban, Persik Kediri, Blitar United, Madura FC, Martapura FC, Persiba Balikpapan, Mitra Kukar, Persewar Waropen dan PSBS Biak.

Nofik Lukman Hakim/kampiun.id