Pemain PSCS Ini Memaksakan Diri untuk Khatam Alquran di Bulan Ramadan

SEBAGAI muslim, sosok Muhammad Wahyu Widya Fitrianto juga tidak mau menjalani bulan suci Ramadan dengan kadar ibadah biasa saja. Pemain gelandang yang musim ini bergabung dengan PSCS Cilacap dalam kompetisi Liga 2 2019 tersebut memiliki tekad kuat untuk meningkatkan level ibadahnya.

“Memaksakan diri untuk selalu salat berjamaah di masjid dan mempertahankan tradisi khatam Alquran selama bulan Ramadan. Itu menjadi hal-hal yang saya wajibkan untuk ditunaikan selama bulan Ramadan,” kata Wahyu kepada TopSkor, Minggu (19/5).

Gelandang bertahan yang pada Liga 1 2018 itu berkostum PSIS Semarang mengaku belum lama hijrah. Pria asal Surabaya ini mulai lebih sadar untuk tekun beribadah sejak menikah tahun 2013.

Termasuk juga tentunya pada momen Ramadan yang selalu disambutnya dengan antusias, meski juga harus tetap menjalani aktivitas keseharian di mes bersama tim. Ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari membuatnya lebih dapat mengontrol emosi di lapangan. Itu jadi salah satu yang dirasakan Wahyu setelah hijrah.

Termasuk juga perlahan meninggalkan kegiatan-kegiatan yang disebutnya tidak membawa manfaat positif. Berbicara mengenai tadarus Alquran, pemain 30 tahun itu mengatakan, intensitas membaca Kitab Suci Umat Islam itu pada Bulan Suci memang selalu diusahakan untuk terus ditingkatkan.

Jika bulan-bulan biasa, Wahyu mengakui rasa malas lebih dominan. Namun, pada Ramadan ini rasa malas itu benar-benar ia pangkas. Sejak hijrah, tradisi khatam Alquran pada bulan Ramadan ditekadkannya untuk selalu terjaga. Diakuinya, memang ada perbedaan jika menjalani puasa di rumah dengan saat bersama tim untuk berkompetisi.

“Kalau Ramadan di rumah, bisa dua kali khatam dalam bulan Ramadan. Namun jika bersama tim dalam kompetisi, saya berusaha setidaknya khatam sekali,” ucap Wahyu lagi. Pemain kelahiran 11 Maret 1989 itu mengatakan, tadarus Alquran dijalaninya pada setiap kesempatan yang memang dimilikinya selama Ramadan.

Tidak hanya dilakukan usai salat isya atau subuh, melainkan juga pada berbagai kesempatan lainnya. “Ramadan tahun ini, Insya Allah juga saya berusaha untuk menjaga tradisi tersebut,” kata pemain bernomor punggung favorit 23 itu.

Salat berjamaah juga menjadi salah satu ibadah yang selalu dipaksakan oleh Wahyu untuk ditunaikan selama Ramadan ini. “Yang jelas salatnya tidak di rumah, harus berjamaah di masjid dari subuh hingga isya. Saya rasakan banyak sekali manfaatnya,” kata mantan kapten Persis Solo itu.

Berangkat bersama rekan-rekan setim untuk salat berjamaah dikatakan Wahyu juga menjadikan tim lebih menyatu satu sama lain. “Di samping itu, bertemu dengan banyak orang di masjid juga akan menambah persaudaraan,” Wahyu mengungkapkan.