Prioritaskan Estetika, Jersey PSIM Yogyakarta Tidak Akan Seperti Kostum Balap

CEO PT PSIM Jaya, Bambang Susanto, memastikan tetap mengedepankan estetika dalam balutan desain jersey Laskar Mataram musim 2019.

Sebab, pengusaha pasar modal asal Semarang tersebut berpendapat jersey klub terlihat kurang ciamik dan jauh dari kata estetis andai dipenuhi banyak logo sponsor.

“Kita ingin jersey musim ini nggak terlalu banyak sponsor. Maunya yang lebih rapi, lebih bagus. Fokusnya lebih kearah sana,” kata Bambang Susanto beberapa waktu lalu.

Sebagaimana diketahui, beberapa jersey klub sepak bola Tanah Air sempat menjadi sorotan menyusul banyaknya sponsor yang melekat di jersey.

Ya, layaknya kostum balap.

Mulai dari lengan, pundak, dada, perut, punggung sampai pinggang dijejali beraneka merek.

Di antaranya berupa produk kopi, moda transportasi berbasis online, produsen ban, operator telekomunikasi, asuransi, perbankan, minuman berenergi dan masih banyak lagi.

Ukurannya pun bervariasi, ada yang besar, sedang maupun kecil.

Walau meninggalkan unsur estetika dan eksklusifnya, klub-klub di Indonesia melakukan hal tersebut demi mengais rupiah yang lebih banyak.

Tujuannya apalagi kalau bukan memperkuat kondisi keuangan tim sekaligus menjaga perputaran roda operasional.

“Pendekatan dari sponsor beberapa memang sudah ada dan masih dalam tahap penjajakan. Kalau bisa sih jersey kita nggak terlalu banyak sponsor,” jelas Bambang.

Bambang memastikan, jersey terbaru PSIM akan diperkenalkan saat sudah mendekati kompetisi.

Namun dalam waktu dekat manajemen akan terlebih dulu merilis jersey pre season yang bakal dijual di PSIM Store, Komplek Wisma Soeratin, Baciro.

“Pekan depan jersey pre season sudah kelar. Yang biru kombinasi batik. Untuk jersey kompetisi nanti kalau mau dekat kick off,” pungkas Bambang.(TRIBUNJOGJA.COM)