Sinyal Pembagian Grup PSIM Jogja dan Persis Solo Dipisah Menguat

Entah disengaja atau tidak, ternyata Persis Solo dan PSIM Jogja kemungkinan akan sulit bertemu di kompetisi resmi. Andaikata ketemu pun bisa jadi itu bukan terjadi di babak penyisihan.

Sejak beberapa tahun terakhir, kedua tim memang seperti tak dimasukkan di satu grup yang sama, padahal kedua tim berstatus tetangga.

Riwayat gesekan antarsuporter yang rawan terjadi andai tergabung di satu grup yang sama, tentu diantisipasi oleh pihak operator kompetisi, maupun PSSI.

Bocoran pembagian grup untuk Liga 2 2019 muncul. Walaupun kepastiannya ternyata masih menunggu hasil managers meeting juga pastinya. Perubahan bisa terjadi, mengaingat ada beberapa klub ternyata sedikit keberatan dengan pembagian grup tersebut.

Persis Solo ada di grup barat bersanding bersama klub-klub dari Sumatera, provinsi Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Satu-satunya klub Jawa Tengah yang ada di grup timur hanya Persibat Batang. Mereka dibayangi sikap harus siap untuk bisa bersaing dengan klub dari Jawa Timur, Kalimantan, hingga Papua.

Persibat ternyata keberatan bergabung di grup timur, apalagi satu grup dengan PSIM. Mereka menganggap rawan gesekan andai kata kedua tim berada di grup yang sama.

Persis Solo sendiri mempertanyakan soal munculnya pembagian grup itu. Ini lantaran Persis Solo bermarkas di Stadion Wilis Madiun, yang notabennya berada di wilayah Jawa Timur. Namun tak seperti klub yang ada di Jatim yang berada di grup timur, Persis malah ditaruh di grup barat. Padahal darisisi geografis, Persis lebih ke timur ketimbang Persibat maupun PSIM Jogja.

“Jadwal itu juga belum fix, karena harus nunggu manager meeting dulu,” terang Manajer Persis Solo, Setiawan Muhammad.

Pelatih Persis Solo, Agus Yuwono sendiri sempat mengungkapkan timnya memang punya potensi cukup besar berada di grup timur, karena bermarkas di Stadion Wilis Madiun. Walaupun dalam beberapa musim terakhir Persis lebih sering dimasukkan di grup barat.

Andaikata Persis satu grup dengan PSIM pun, coach Agung Yuwono mengakui tak terlalu mempermasalahkannya. “Siapapun lawannya, tentu kita harus siap,” terangnya.

Persis dan PSIM memang seperti sudah jadi kebiasaan selalu dipisah saat berada di babak penyisihan grup. Terakhir kali Persis bertemu dengan PSIM di babak penyisihan, ternyata terjadi di Divisi Utama versi PT. Liga Indonesia musim 2013

Entah disengaja atau tidak, ternyata PT.LI memutuskan untuk menggabungkan kedua tim di grup yang sama, padahal rawan terjadi sweeping saat pertandingan terjadi. Dan memang akhirnya momen itu terjadi di musim 2013 di dalam tribun.

Bisa jadi ini strategi juga, mengingat saat itu Persis Solo awalnya sama sekali tak didukung oleh Pasoepati. Dualisme Persis Solo yang sudah terjadi sejak musim 2011/2012, memang membuat Persis terbentuk jadi dua klub berbeda, yang terjun di dua kompetisi berbeda juga.

Pasoepati menyatukan suara untuk mendukung penuh Persis Solo yang berkompetisi di bawah payung operator PT.LPIS. Sementara Persis versi PT. LI di bawah arahan Agung Setyobudi, lebih akrab dengan suasana pertandingan kandang yang sunyi senyap. Ini wajar karena tak ada Pasoepati yang mendukung selama satu musim penuh kala itu.

Di musim kedua dualisme terjadi (2013), ternyata ada beberapa kubu Pasoepati yang akhirnya membuka diri untuk mau mendukung Persis versi LI.

Walaupun jumlah dukungan masih kalah jauh jika melihat Persis versi LPIS yang bertanding di musim 2013. Perbandingan dukungan Pasoepati pada klub Persis LI dan Persis LPIS, sekitar 1-3.000-an, banding 16.000-an massa.

Di musim 2013 ini, PT.LI akhirnya menyatukan Persis dan PSIM di satu grup yang sama. PSIM lebih dulu bertanding di Stadion Mandala Krida (26/3/2013), dan sukses menang telak 4-1. Di Leg kedua, Persis harsu puas ditahan seri PSIM 1-1 di Manahan (27/4/2013).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*