Persib Menolak Pemilihan Ketua PSSI Baru Digelar 2020

Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar menyebut tidak setuju jika kongres pemilihan Ketua Umum PSSI baru digelar Januari 2020 mendatang.

Sejak Edy Rahmayadi mundur dari Ketua Umum PSSI, Wakil Ketua Umum Joko Driyono otomatis menggantikannya. Namun, kasus hukum yang menimpa Joko Driyono membuat posisi nomor satu di federasi sepak bola Indonesia itu dijalankan Iwan Budianto sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum.

Menanggapi segala masalah yang terjadi di PSSI, Exco menggelar rapat, Kamis (2/5). Hasilnya, demi kelancaran sejumlah program PSSI, kongres untuk menggelar pemilihan ketua umum baru akan diselenggarakan pada awal tahun depan.

Keputusan itu juga sesuai dengan saran FIFA yang menyebut kongres pemilihan Ketum PSSI dan Exco bisa dilakukan pada Januari 2020. Kongres pemilihan pun disebut Kongres Biasa Pemilihan, bukan Kongres Luar Biasa (KLB).

“Ini yang tidak jelas. Mereka [Exco PSSI] jangan begitu. Ini mereka orang-orang bermasalah harusnya mawas diri, malu. Publik tahu semua bahwa PSSI bobrok. Harusnya cepat ambil tindakan, kasih kami jalan terbaik.”

“Buat apa mempertahankan. Ini ada apa? Kami tidak setuju [Kongres Pemilihan Ketua Umum PSSI digelar Januari 2020]. Semua juga pasti [tidak setuju], bukan hanya Persib saja,” ucap Umuh kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/5).

Umuh berharap kongres pemilihan Ketua Umum PSSI bisa dilakukan segera. Beberapa rekan klub lainnya juga disebut Umuh mendesak untuk bergerak.

Sebelum kongres pemilihan, PSSI bakal lebih dulu menggelar KLB pada 13 Juli mendatang dengan memuat tiga agenda utama. Tiga agenda tersebut yakni merevisi statuta PSSI, revisi kode pemilihan PSSI, dan membentuk serta memilih anggota untuk Komite Pemilihan (KP) serta Komite Banding Pemilihan (KBP).

Semen Padang Minta Pemilihan Dipercepat

Sementara itu, Direktur Umum PT Kabau Sirah Semen Padang (KSSP), Rinold Thamrin mendukung percepatan kongres pemilihan ketua umum baru PSSI. Namun, ia juga tidak akan memaksakan hal itu untuk terjadi jika dilakukan tidak sesuai dengan regulasi.

“Kalau bisa dipercepat, kenapa tidak? Dipercepat pun tidak ada masalah karena di statuta disebut selambat-lambatnya [Kongres Pemilihan] digelar enam bulan setelah badan pemilihannya terbentuk. Kalau voters setuju, bisa,” kata Rinold kepada CNNIndonesia.com.

Meski begitu, kemungkinan waktu kongres pemilihan dipercepat, dikatakan Rinold, baru bisa dilakukan setelah KLB pembentukan badan pemilihan pada Juli mendatang digelar. Ia melanjutkan, semua masih bisa berubah lewat kesepakatan para pemegang suara pada KLB mendatang.

“PSSI juga sudah sowan ke FIFA, artinya kita tidak bisa melangkah sendiri-sendiri. Voters punya kekuatan besar, tapi kan kami sudah memberikan mandat ke Exco. Dan bisa saja kami melakukan mosi tidak percaya atau penarikan dukungan, tapi apa itu bisa menyelesaikan masalah? Tidak juga,” ungkap Rinold. (TTF/bac)