Cara Makan Konate Beradaptasi dalam Latihan Saat Ramadan

Gelandang Arema, Makan Konate, mengaku butuh adaptasi lagi untuk menghadapi persiapan dan serangkaian pertandingan di Bulan Puasa. Meski, ini bukan pengalaman pertamanya berkompetisi di Indonesia ketika Ramadan.

“Saya sudah beberapa kali menjalani Ramadan di Indonesia, tapi tetap butuh adaptasi. Terutama saat latihan 2-3 hari pertama, karena berat menjalani latihan ketika sedang berpuasa,” jelas pemain 27 tahun itu.

Saat puasa hari pertama, Makan Konate sudah mulai beradaptasi. Dia melakukan latihan fitnes sore hari. Kebetulan pada hari ini Arema menggelar latihan sore di Lapangan Universitas Negeri Malang.

Arema meliburkan pemain di awal bulan Ramadan. Tim berjulukan Singo Edan ini kembali berlatih pada Selasa hari ini (7/5/2019) sebagai persiapan uji coba terakhir melawan PSIS Semarang di Magelang dan menyambut Liga 1 2019 di kandang PSS Sleman pada 15 Mei 2019.

“Tentu berbeda latihan dalam kondisi normal dengan puasa. Tidak bisa 100 persen. Namun, saya berusaha untuk tetap bisa beradaptasi,” jelas mantan pemain PSPS Pakanbaru ini.

Konate dikenal sebagai pemain religius. Dia tetap menjalankan kewajiban berpuasa, meski harus tetap berlatih.

Dia juga tidak merasa sendirian menjalankan ibadah puasa karena mayoritas pemain Indonesia dan Arema merupakan Muslim. Jadi, dia melihat semua pemain merasakan hal yang sama untuk apatasi latihan dan pertandingan ketika Ramadan.

Saat ditanya tentang kebiasaannya menjalankan puasa, Konate mengakui saat ini masih membawa kebudayaan dari Mali, terutama untuk buka puasa. Dia tidak langsung makan berat, tetapi dengan kurma dan susu atau teh hangat.

Konate juga menghindari minuman dingin. Setelah ibadah saalat Tarawih baru dia makan berat seperti nasi dan yang lainnya.

“Bedanya, kalau di Mali berbuka puasa selalu dengan keluarga. Tapi, sekarang saya di Indonesia, jadi belum bisa berkumpul keluarga,” kata Makan Konate.