Azrul Ananda Bicara Rencana Bisnis Persebaya Musim Ini

Persebaya Surabaya terus memperkuat gurita binisnya memasuki musim 2019. Manajemen tim berjuluk Green Force itu berencana menambah outlet Persebaya Store. Persebaya ingin mendominasi penjualan merchandise klub di Jawa Timur (Jatim).

Sejak bangkit pada Januari 2017 lalu, Persebaya mengedepankan produk buatan Indonesia. Mereka memproduksi apparel dan merchandise-nya sendiri. Mulai dari official jersey, hingga berbagai outfit dan pernak-pernik lainnya.

“Banyak brand apparel yang dipakai oleh tim itu bertuliskan made in Indonesia, tetapi kainnya impor. Sementara jersey kami, kainnya pun dibuat di Indonesia. Itu adalah sebuah tantangan bagi industri tekstil Indonesia untuk menghasilkan bahan jerey yang berteknologi tinggi dan bisa memenuhi performa atlet. Memang berat. Tetapi ini harus ada yang memulai,” kata Presiden Klub Persebaya, Azrul Ananda.

Sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, Persebaya berhasil menjual jersey asli pada angka signifikan pada musim lalu. Setelah meluncurkan jersey baru pada pertengahan pekan kemarin, Persebaya menargetkan penjualan yang lebih tinggi.

“Target kami terjual sebanyak-banyaknya. Saya kira jersey kami yang baru akan mendapatkan respons yang sama. Persebaya, Persebaya Store, dan lain-lain punya fungsi untuk mendorong industri lokal. Ini step pertama. Masih ada step-step berikutnya yang bisa dilihat dalam beberapa tahun ke depan,” tegasnya.

Azrul menambahkan bahwa Persebaya Store sudah memiliki 16 outlet. Sebelas di antaranya ada di Surabaya. Sementara lima lainnya berdiri di Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, dan Krian. Rencananya, jumlah Persebaya Store akan terus ditambah pada musim ini.

“Impian kami, jika di Surabaya ada 31 kecamatan, ya ke-31 kecamatan itu ada Persebaya Store semua. Kota-kota di Jawa Timur ini hampir semuanya ada Persebaya Store. Itu akan menunjukkan eksistensi klub. Kalau store-nya bisa buka di suatu kota dan dia hidup, tandanya klub itu hidup di situ,” tegas Azrul.

Dia kembali mengkritik pola manajemen klub sepak bola di Indonesia. Menurut pengamatannya, kebanyakan klub masih bergantung dana dari sponsor. Padahal itu adalah model bisnis yang tidak sehat.

“Klub itu hidup kalau tiga pilarnya berjalan. Satu adalah sponsorship. Dua adalah pendapatan dari penonton. Persebaya adalah penonton terbanyak di Indonesia. Ketiga dari lisensi dan merchandise. Store adalah bagian dari ini. Tapi di luar negeri ada banyak sekali pernak-pernik seperti buku tulis, sikat gigi itu bisa brand-nya. Idealnya masing-masing 30 persen,” tutup Azrul.