Alasan Bos PSIM Jorjoran di Liga 2 2019

PSIM menjadi tim yang paling layak diperhitungkan dalam persaingan di Liga 2 musim 2019. Betapa tidak, klub berjulukan Laskar Mataram ini sedang membangun era baru dengan ambisi besar, yakni lolos ke kasta Liga 1 musim depan.

Untuk mewujudkan itu, PSIM menghadirkan investor baru, Bambang Susanto, yang kini menjadi CEO klub. Sang bos PSIM mengambil langkah berani untuk jorjoran mendatangkan pemain ternama. Meski tak mau menyebut berapa besar nilai yang ia investasikan di PSIM, deretan pemain wah sudah menjadi milik klub kebanggaan Kota Gudeg.

Hanya ada tujuh pemain Laskar Mataram musim lalu dipertahankan. Mereka adalah Raymond Tauntu, Ivan Febrianto, Pratama Gilang Ramadhan, Edo Pratama, Hendrico Satriadi, Hendika Arga Permana, dan Fandy Edy.

Kemudian, mayoritas pemain lainnya berasal dari gerbong Bogor FC. Di lini depan ada Rudiyana dan Dwi Raffi Angga. Barisan tengah PSIM ada Ichsan Pratama yang berstatus pemain terbaik Liga 2 musim 2018, Ade Suhendra, Rosi Noprihanis, Reza Saputra, Achmad Hisyam Tolle, serta Redi Rusmawan.

Sementara di posisi belakang ada Heri Susilo, Gusti Rustiawan, Aditya Putra Dewa, Agung Pribadi, Ngurah Nanak serta Tedi Berlian. Belum lagi dengan adanya Raphael Maitimo, dan isu Cristian Gonzales yang akan merapat. Skuat PSIM pun jelas terlihat berbeda ketimbang musim-musim sebelumnya yang kerap mengandalkan potensi pemain lokal.

Bambang Susanto menjelaskan pihaknya jorjoran dan banyak merombak skuat, agar punya daya saing saat kompetisi nanti. Pria yang juga merupakan seorang pemain pasar modal ini melihat pesaing di Liga 2 juga kuat, terutama Persita Tangerang, Sriwijaya FC, dan PSMS Medan.

“Kenapa kami punya standar tinggi, karena saya juga tidak mau spekulasi. PSIM tidak mau di tengah-tengah, ternyata nggak bisa lancar. Kami tahu Persita, PSMS itu didanai grup asing, kemudian di belakang Sriwijaya ada tokoh nasional. Mereka pasti keluar dana besar-besaran,” tutur Bambang Susanto, Sabtu (27/4/2019).

Adanya Satgas Antimafia Bola yang diprakarsai Kapolri juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi Bambang Susanto. Praktis, peta persaingan di Liga 2 akan banyak mengandalkan sisi teknis. Untuk itu, ia merasa wajib membentuk tim terkuat.

“Dengan adanya Satgas Antimafia Bola, faktor nonteknik pasti turun, oleh karena itu, mau tak mau tim termasuk PSIM, harus berbenah dari sisi teknis,” katanya.