Banyak Pro dan Kontra, PSIM Beri Klarifikasi ke Suporter

Manajemen PSIM Yogyakarta memberikan klarifikasi terkait polemik yang muncul di ranah suporter baru-baru ini. Caretaker CEO PSIM, Bambang Susanto, bertemu dengan sejumlah perwakilan suporter Brajamusti dan Maident di Wisma PSIM, Selasa (23/4/2019) sore.

Beberapa persoalan dihadapi manajemen PSIM Yogyakarta seiring masuknya investor baru yang dipimpin Bambang Susanto. Mulai dari nama Reborn yang sedang melekat di PSIM, hingga isu markas PSIM yang akan pindah dari Yogyakarta.

Di jagat maya, muncul pro dan kontra adanya nama PSIM Reborn. Sementara program pemusatan latihan tim yang saat ini dilakukan di Bogor FC, membuat sebagian suporter PSIM mengira klub kebanggaannya bakal pergi dari Yogyakarta, dengan gerbong pemain Bogor FC.

Hal tersebut sempat menjadi tanda tanya besar pendukung setia Laskar Mataram (julukan PSIM). Bambang Susanto angkat bicara mengenai kesalahpahaman yang membuat gelisah pendukung PSIM.

“Kami ingin memberikan klarifikasi isu-isu yang beredar dan terjadi belakangan ini. Sampai detik ini kami masih memegang komitmen. PSIM Yogyakarta tidak akan pernah bertukar nama dan pindah homebase di luar Yogyakarta. Kostum kebesaran PSIM adalah tetap berwarna biru dan putih, ada batik parangnnya. Logo klasik khas laskar Mataram. Terakhir adalah pembinaan usia dini di Yogyakarta yang harus selalu berjalan,” terangnya di Wisma PSIM, Selasa (23/4/2019) sore.

Polemik Jersey
Bambang juga membeberkan soal nama PSIM Reborn yang juga terdapat di jersey latihan tim. Menurutnya, itu dilakukan hanya untuk kepentingan bisnis karena menjadi tagline, seperti untuk penjualan merchandise yang sifatnya temporer.

“Tagline itu bisa berubah-ubah tergantung suasananya. Hal-hal seperti ini tidak perlu menjadi kesalahpahaman. Jersey hitam juga untuk saat latihan, itu juga limited edition. Sekali lagi kami ingin PSIM lebih bervariatif dan dinamis,” lanjut Bambang Susanto.

“Kemudian soal lapangan latihan, kenapa memilih Bogor, karena tim yang ada di Yogyakarta sedang mencari sarana yang ideal. Pelatih Vladimir Vujovic perlu latihan yang memerlukan tekanan untuk fisik,” kata Bambang Susanto.

Sementara polemik terbaru adalah pengunduran diri asisten pelatih Erwan Hendarwanto dan dua pemain lama yakni Risman Maidullah dan Supriyadi. Bambang Susanto mengklaim terjadi kesalahpahaman, karena meskipun pemain lama bakal diketahui kondisi fisik dan riwayat cederanya.

“Kami juga menyayangkan alasan beliau karena perbedaan visi dan misi. Padahal kami punya visi misi yang sama yakni ingin PSIM segera ke Liga 1. Dua pemain malah memilih mundur padahal baru akan kami sodori kontrak. Kami tidak perlu mencampuri urusan pribadi dan masa depan mereka. Yang pasti kami tidak pernah sedikitkpun keluar dari komitmen,” tukas Bambang Susanto.